Borobudur (14-15 Juli2010), Wilayah di sekitar Candi Borobudur maupun di wilayah Jawa Tengah dan DIY masih banyak terdapat benda cagar budaya dari berbagai latar belakang budaya dan keagamaan. Menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita bersama segenap lapisn bangsa untuk , menjaga, melestarikan, melindungi, dan memanfaatkan benda cagar budaya tersebut bagi kepentingan bangsa di masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang.
Untuk mendukung hal tersebut perlu diadakan penyuluhan dan penyebaran informasi Kepada segenap lapisan masyarakat, terutama kalangan generasi muda, apalagi sekarang ini dikhawatirkan dengan merosotnya rasa nasionalisme dan kendurnya nilai-nilai jati diri bangsa di kalangan generasi muda karena pengaruh globalisasi. Salah satu upaya mengajak generasi muda mencintai budaya negeri sendiri, warisan leluhur nan agung adalah dengan mengajak mereka mengenali dari dekat tinggalan di sekeliling mereka yang mungkin saja mereka belum mengenalnya,sesuai dengan peribahasa “ tak kenal maka tak tahu, tak tahu maka tak terbiasa, tak terbiasa maka tak sayang “. Diharapkan dengan mengenalkan kepada mereka benda cagar budaya disekitar mereka melalui kegiatan Meniti Jejak Peradaban yang bertema “ Belajar dari masa lalu untuk masa depan “ dapat menumbuhkan rasa peduli, pada budaya negeri sendiri akhirnya menggugah rasa memiliki “ Indonesia sejati”.

Dibandingkan dengan peringatan hari internasional lain seperti hari anak sedunia, hari AIDS sedunia, hari bebas tembakau sedunia, atau yang terakhir hari air sedunia, tanggal 18 April sebagai hari situs dan monumen sedunia kurang begitu dikenal. Hari situs dan monumen sudah ditetapkan cukup lama, pertama kali diusulkan oleh ICOMOS (International Council on Monuments and Sites) tahun 1982 dan selanjutnya ditetapkan oleh UNESCO pada sidang umumnya ke-22 tahun 1983. Hari situs dan monumen ditetapkan dalam rangka memberikan kesempatan untuk peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya warisan dunia serta semangat untuk melindungi dan melestarikan sekaligus untuk memahami nilai-nilai luhurnya.

Hari situs dan monumen sering juga disebut sebagai hari warisan dunia (World Herittage Day). Indonesia yang merupakan anggota UNESCO dan telah menjadi bagian dari masyarakat warisan dunia karena telah meratifikasi konvensi UNESCO tentang world heritage sudah selayaknya ikut memperingati hari ini.

Indonesia juga sudah memiliki warisan dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO. Hingga saat ini telah ada 7 situs yang telah ditetapkan. Tiga diantaranya adalah situs warisan budaya, yaitu Borobudur (No. 592 tahun 1991), Prambanan (No.642 Tahun 1991), dan Situs Manusia Purba Sangiran (No. 593 Tahun 1996). Sedangkan empat lainnya adalah situs alam, yaitu Taman Nasional Komodo (No.609 Tahun 1991), Taman Nasional Ujung Kulon (No.608 Tahun 1991), Taman Nasional Lorenz (No.995 Tahun 1999), dan Hutan Hujan Tropis Sumatera (No. 1167 Tahun 2004). Sebagai tambahan UNESCO juga telah mengakui tiga warisan budaya lainnya yang masuk dalam kategori intangible (tak benda), yaitu Wayang (2003), Keris (2006), dan terakhir yang masih terasa gaungnya yaitu Batik (2009).

Berbagai kegiatan disarankan untuk memperingati hari situs dan monumen sedunia untuk mendukung tujuan pencanangan yang telah digariskan. Kegiatan-kegiatan yang disarankan untuk diorganisir secara nasional antara lain; kunjungan ke situs dan monumen serta pekerjaan konservasi yang dilakukan dengan bebas biaya, publikasi media cetak dan elektronik, pelaksanaan diskusi-diskusi, pameran, dan peningkatan kesadaran generasi muda termasuk anak-anak sekolah. Pada peringatan hari situs dan monumen sedunia juga dapat dilakukan pemberian penghargaan kepada insan yang dinilai berjasa besar terhadap konservasi dan promosi warisan dunia atau peresmian situs serta monumen yang selesai dipugar.

continue reading…

Candi Borobudur, salah satunya, dapat diartikan sebagai mandala. Mandala dalam bahasa Sansekerta berarti lingkaran, akan tetapi oleh umat Buddha mandala diartikan sebagai sebuah diagram dengan gambar dewa-dewa dengan posisi tertentu. Mandala digunakan dalam upacara-upacara keagamaan agar dapat mengantar orang menuju tingkat yang lebih tinggi. Karena Candi Borobudur dipercaya merepresentasikan mandala, umat Buddha dari seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Candi Borobudur untuk menggelar upacara keagamaan.

Indonesia Kagyu Monlam ke-2 diadakan pada tanggal 2 – 4 April 2010. Pesertanya adalah umat Buddha yang berasal dari Indonesia, dan dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Kamboja, Nepal, dan India. Acara ini sendiri dipimpin oleh YM. Gyal Wang Karmapa XVII Ogyen Trinle Dorce dan diorganisir oleh Triyana Dharma Center Surabaya dan Vihara Dua kebenaran Jakarta Utara bekerja sama dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Monlam, yang tersusun dari dua kata (”mon“ yang artinya aspirasi, dan”lam” yang berarti jalan), merupakan sebuah jalan untuk melakukan aspirasi agung. Dengan monlam, umat Buddha percaya bahwa mereka melakukan suatu latihan dalam mencapai kebudhaan demi pencerahan dan kebahagiaan semua makhluk. Tradisi ini berawal dari tradisi kyagud yang telah ada selama lebih dari 500 tahun.

Upacara Monlam di Candi Borobudur telah dilakukan pada tahun 2009 dan 2010. Untuk upacara kali ini, dipanjatkan doa untuk perdamaian dunia dan pencerahan bagi umat Budha demi kebahagiaan pribadi dan seluruh umat. Pada puncak upacara monlam, seluruh umat Buddha yang mengikuti kegiatan ini melakukan pradaksina, yaitu memanjatkan doa dengan mengelilingi Candi Borobudur searah jarum jam. Kegiatan pradaksina yang niscayanya akan diadakan di tingkat 1 Candi Borobudur kemudian dipindahkan tempatnya ke halaman. Hal ini dikarenakan para peserta upacara monlam melakukan pradaksina dengan membawa lilin, yang tetesannya dikhawatirkan dapat merusak bebatuan di Candi Borobudur.

bdr_0015.JPGbdr_0017.JPGbdr_0032.JPGbdr_0027.JPG

Pelatihan Satuan Pengaman Warisan Dunia  dibuka oleh ketua panitia,  Sugiono, S.H. Beliau menyatakan ucapan syukur dan terima kasih atas partisipasi peserta dan kedatangan para tamu undangan.  Acara ini diikuti 30 peserta dari Satuan pengamanan BKPB,  TWCB,  Sangiran, BP3 Jateng, dan BP3 DIY. Acara selanjutnya adalah sambutan dari kepala BKPB, Drs.Marsis Soetopo, M.Si. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa  tujuan diadakannya pelatihan ini, yaitu untuk meningkakan SDM satuan pengaman yang lokasi kerjanya merupakan lingkungan BCB dan mengucapkan terima kasih kepada para peserta dan tamu undangan dan ucapan syukur juga diucapkan atas terselenggaranya kegiatan pelatihan satuan pengaman warisan dunia selama 3 hari (29-31 Maret 2010).

Dalam acara pembukaan ini juga, diadakan penyerahan imbalan jasa kepada Bapak Kasri, pemilik  lahan temuan dua kepala arca Budha yang diindikasikan milik Candi Borobudur  atas kesadarannya melaporkan temuan. Ucapan terima kasih  juga disampaikan kepada pihak–pihak yang telah merespon temuan ini untuk kemudian ditindak lanjuti.

Materi pertama disampaikan oleh Ibu Wiwit Kasiyati, S.S tentang struktur organisasi kementrian Kebudayaan dan Pariwisata dimana terdapat seksi perlindungan yang didalamnya terdapat satpam yang mempunyai tugas pengamanan BCB. Penjelasan Tupoksi dan makna kebudayaan juga dipaparkan agar para satpam BCB wardun memahami apa yang harus mereka amankan.  Dalam penutup, beliau menekankan untuk merubah paradigma satpam yang menyeramkan dengan paradigma baru, yaitu satpam yang ramah dan membantu wisatawan.  Sesi selanjutnya diisi oleh Bpk. Dr.Daud Aris Tanudirdjo sebagai narasumber yang memaparkan mengenai pengertian warisan dunia, pengelolaan dan perlindungannya. Beliau juga memaparkan pentingnya memberi informasi dan penjelasan kepada wisatawan atau masyarakat mengenai nilai penting BCB.

Selain materi di atas, materi pelatihan lainnya yaitu Materi mengenai kepariwisataan, Tupoksi, taktis, Strategi dalam tugas kesatpaman dan pengenalan objek vital nasional beserta pengamanannya, Perundang – undangan BCB dan UU lain yang mendukung, Psikologi massa, Konservasi warisan dunia dan etika dan peranan satpam pariwisata. Materi – materi tersebut diisi oleh Bpk. Wibowo Setyo Utomo, M.Si (Kadin Pariwista Kab Magelang),Bpk AKP Sarodji dan Bripka Zaenal Arifin (wakil Kabid Binamitra Polres Magelang),  Drs. Marsis Soetpo (kepala BKPB), Dra. Sumarni (Psikolog), M.Si, Nahar Cahyandaru, S.Si (Narasumber dari BKPB). Pada hari ketiga, diadakan studi banding ke 2 obvit nasional, yaitu Masjid Demak dan Masjid Menara Kudus.

bdr_0131.JPGbdr_0148.JPGbdr_0169.JPG

Candi Borobudur merupakan warisan budaya dunia yang wajib kita lestarikan keberadaannya. Pelestarian Candi Borobudur berkaitan erat dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Candi Borobudur terletak di atas bukit dengan ketinggian halaman candi kurang lebih 15 m dari daerah sekitarnya. Untuk mendukung pelestarian candi maka daerah di sekitar candi dilakukan program penghijauan khususnya di Zona I Candi Borobudur yang merupakan area terdekat dengan Candi Borobudur. Kegiatan penghijauan di kawasan Borobudur ini diselenggarakan selain untuk mendukung keberadaan Candi Borobudur itu sendiri juga untuk mengurangi dampak global warming dan untuk menyerap gas emisi. Di seluruh dunia sekarang ini juga digalakkan program pengurangan gas emisi dan memperbanyak oksigen dengan cara reboisasi, sehingga dampak efek rumah kaca dapat dikurangi. Kegiatan penghijauan “One Man One Tree” ini dilaksanakan dengan penanaman pohon 1 orang 1 pohon. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini diharapkan semua pihak yang terlibat dapat menyadari betapa penting arti sebuah pohon dalam kaitannya dengan persediaan oksigen bagi mahluk hidup di dunia.

 

Tujuan dari Program Penghijauan Kawasan Borobudur / Go Green Borobudur dengan judul “One Man One Tree” ini adalah untuk melestarikan kawasan Candi Borobudur, untuk mengurangi dampak global efek rumah kaca dan agar semua orang menyadari betapa pentingnya menanam pohon untuk kelangsungan hidup umat manusia.

continue reading…