Browsing Posts in Kegiatan

Borobudur (14-15 Juli2010), Wilayah di sekitar Candi Borobudur maupun di wilayah Jawa Tengah dan DIY masih banyak terdapat benda cagar budaya dari berbagai latar belakang budaya dan keagamaan. Menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita bersama segenap lapisn bangsa untuk , menjaga, melestarikan, melindungi, dan memanfaatkan benda cagar budaya tersebut bagi kepentingan bangsa di masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang.
Untuk mendukung hal tersebut perlu diadakan penyuluhan dan penyebaran informasi Kepada segenap lapisan masyarakat, terutama kalangan generasi muda, apalagi sekarang ini dikhawatirkan dengan merosotnya rasa nasionalisme dan kendurnya nilai-nilai jati diri bangsa di kalangan generasi muda karena pengaruh globalisasi. Salah satu upaya mengajak generasi muda mencintai budaya negeri sendiri, warisan leluhur nan agung adalah dengan mengajak mereka mengenali dari dekat tinggalan di sekeliling mereka yang mungkin saja mereka belum mengenalnya,sesuai dengan peribahasa “ tak kenal maka tak tahu, tak tahu maka tak terbiasa, tak terbiasa maka tak sayang “. Diharapkan dengan mengenalkan kepada mereka benda cagar budaya disekitar mereka melalui kegiatan Meniti Jejak Peradaban yang bertema “ Belajar dari masa lalu untuk masa depan “ dapat menumbuhkan rasa peduli, pada budaya negeri sendiri akhirnya menggugah rasa memiliki “ Indonesia sejati”.

Candi Borobudur, salah satunya, dapat diartikan sebagai mandala. Mandala dalam bahasa Sansekerta berarti lingkaran, akan tetapi oleh umat Buddha mandala diartikan sebagai sebuah diagram dengan gambar dewa-dewa dengan posisi tertentu. Mandala digunakan dalam upacara-upacara keagamaan agar dapat mengantar orang menuju tingkat yang lebih tinggi. Karena Candi Borobudur dipercaya merepresentasikan mandala, umat Buddha dari seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Candi Borobudur untuk menggelar upacara keagamaan.

Indonesia Kagyu Monlam ke-2 diadakan pada tanggal 2 – 4 April 2010. Pesertanya adalah umat Buddha yang berasal dari Indonesia, dan dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Kamboja, Nepal, dan India. Acara ini sendiri dipimpin oleh YM. Gyal Wang Karmapa XVII Ogyen Trinle Dorce dan diorganisir oleh Triyana Dharma Center Surabaya dan Vihara Dua kebenaran Jakarta Utara bekerja sama dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Monlam, yang tersusun dari dua kata (”mon“ yang artinya aspirasi, dan”lam” yang berarti jalan), merupakan sebuah jalan untuk melakukan aspirasi agung. Dengan monlam, umat Buddha percaya bahwa mereka melakukan suatu latihan dalam mencapai kebudhaan demi pencerahan dan kebahagiaan semua makhluk. Tradisi ini berawal dari tradisi kyagud yang telah ada selama lebih dari 500 tahun.

Upacara Monlam di Candi Borobudur telah dilakukan pada tahun 2009 dan 2010. Untuk upacara kali ini, dipanjatkan doa untuk perdamaian dunia dan pencerahan bagi umat Budha demi kebahagiaan pribadi dan seluruh umat. Pada puncak upacara monlam, seluruh umat Buddha yang mengikuti kegiatan ini melakukan pradaksina, yaitu memanjatkan doa dengan mengelilingi Candi Borobudur searah jarum jam. Kegiatan pradaksina yang niscayanya akan diadakan di tingkat 1 Candi Borobudur kemudian dipindahkan tempatnya ke halaman. Hal ini dikarenakan para peserta upacara monlam melakukan pradaksina dengan membawa lilin, yang tetesannya dikhawatirkan dapat merusak bebatuan di Candi Borobudur.

bdr_0131.JPGbdr_0148.JPGbdr_0169.JPG

Candi Borobudur merupakan warisan budaya dunia yang wajib kita lestarikan keberadaannya. Pelestarian Candi Borobudur berkaitan erat dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Candi Borobudur terletak di atas bukit dengan ketinggian halaman candi kurang lebih 15 m dari daerah sekitarnya. Untuk mendukung pelestarian candi maka daerah di sekitar candi dilakukan program penghijauan khususnya di Zona I Candi Borobudur yang merupakan area terdekat dengan Candi Borobudur. Kegiatan penghijauan di kawasan Borobudur ini diselenggarakan selain untuk mendukung keberadaan Candi Borobudur itu sendiri juga untuk mengurangi dampak global warming dan untuk menyerap gas emisi. Di seluruh dunia sekarang ini juga digalakkan program pengurangan gas emisi dan memperbanyak oksigen dengan cara reboisasi, sehingga dampak efek rumah kaca dapat dikurangi. Kegiatan penghijauan “One Man One Tree” ini dilaksanakan dengan penanaman pohon 1 orang 1 pohon. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini diharapkan semua pihak yang terlibat dapat menyadari betapa penting arti sebuah pohon dalam kaitannya dengan persediaan oksigen bagi mahluk hidup di dunia.

 

Tujuan dari Program Penghijauan Kawasan Borobudur / Go Green Borobudur dengan judul “One Man One Tree” ini adalah untuk melestarikan kawasan Candi Borobudur, untuk mengurangi dampak global efek rumah kaca dan agar semua orang menyadari betapa pentingnya menanam pohon untuk kelangsungan hidup umat manusia.

continue reading…

Dalam rangka menyukseskan Visit Indonesian Year 2008, Walubi bekerjasama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menyelenggarakan kegiatan Tapak Tilas Umat Budha pada hari Sabtu, 26 Juli 2008 di Candi Borobudur.

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut turut mengundang negara-negara sahabat, antara lain : Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand dan Vietnam. Negara-negara sahabat tersebut akan menggelar sendratari dengan corak budayanya masing-masing, dan dari Indonesia akan menggelar sendratari King Asoka. *  

bdr_0007.JPGCandi Borobudur sebagai salah satu karya besar nenek moyang bangsa Indonesia dan sudah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) memerlukan pemeliharaan, perawatan, dan upaya pelestarian  sesuai dengan standard pemeliharaan sebagai tinggalan Warisan Dunia.

Kelestarian Candi Borobudur sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah aspek bahan dan aspek konstruksi bangunan candi. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kelestarian Candi Borobudur adalah faktor lingkungan, baik yang bersifat biotis (lumut, algae, dan jasad renik lainnya) dan yang bersifat abiotis (panas matahari, hujan, kelembaban, dan sebagainya). Kedua faktor yang tersebut saling berinteraksi yang pada akhirnya dapat  mempengaruhi kelestarian terhadap Candi Borobudur.
Lebih-lebih bangunan Candi Borobudur berada di tempat yang terbuka sehingga faktor lingkungan, khususnya pengaruh air hujan, sangat berpengaruh terhadap kelestarian bangunan Candi Borobudur.
continue reading…