Diskusi Bulanan Pengkayaan Keilmuan Staf Teknis : Nomination Dossiers and Management Plan

 Berita

Kamis (07/03/13) Balai Konservasi Borobudur kembali menyelenggarakan Diskusi Bulanan Pengkayaan Keilmuan Staf Teknis.

Diskusi kali ini menggangkat tema Sub Regional Workshop for The Preparation Nomination Dossiers for World Heritage Inscription and Development of the Management Plan. Tema tersebut merupakan hasil workshop staf Balai Konservasi Borobudur di Bali beberapa waktu yang lalu sebagai sosialisasi dan pelatihan persiapan nominasi sebuah situs budaya menjadi World Heritage dan manajeman pengelolaannya.

Pemakalah dalam Diskusi tersebut adalah Panggah Ardiyansyah, S.S dan Hari Setyawan, S.S, mereka memberikan penjelasan bahwa konvensi tentang warisan dunia tahun 1972 merupakan salah satu konvensi PBB yang paling sukses, karena sejak 1972 hingga sekarang hampir 190 negara ikut meratifikasi konvensi tersebut. Warisan Dunia dibagi menjadi beberapa kriteria yaitu warisan budaya, warisan alam, campuran antara warisan budaya dan alam, dan lansekap budaya yang ditambahkan sejak tahun 1992.

Dalam proses pengajuan suatu situs hingga ditetapkan menjadi Warisan Dunia terdapat beberapa tahapan yang cukup panjang. Dimulai dari proses pengajuan untuk nominasi, penilaian oleh tim advisory body yang memakan waktu hampir  18 bulan. Pengumuman hasil penilaian nantinya dibagi menjadi 4 kriteria yaitu menolak dan tidak bisa lagi diajukan, menerima, penundaan nominasi, dan rujukan nominasi.

Selain itu situs-situs yang telah ditetapkan menjadi Warisan Dunia wajib melakukan pelaporan kepada UNESCO untuk memantau kondisi situs-situs tersebut. Pelaporan terdiri dari Periodic Reporting yang dilaporkan setiap 6 tahun sekali, State of Conservation yang dikirimkan jika ada pertanyaan dan rekomendasi dari UNESCO, serta Reactive Monitoring bila terdapat permasalahan yang akan digunakan sebagai Action Plan.

Menurut Kepala Layanan Konservasi Balai Konservasi Borobudur Iskandar M. Siregar, S.Si, ilmu mengenai World Heritage masih sangat awam dan langka di Indonesia, hanya beberapa orang yang menguasai. Sehingga ini merupakan kesempatan bagi kita untuk mempelajari dan belajar bersama, karena ilmu ini pasti akan sangat dibutuhkan dan berkembang ke depannya.

 

Related Posts