FASILITAS

 statis
  1. Perpustakaan dan Arsip

Perpustakaan Balai Konservasi Borobudur berdiri sejak masa pemugaran yaitu sekitar tahun 1969. Koleksi buku yang ada meliputi text book, referensi, laporan studi, skripsi/tesis/disertasi, jurnal penelitian, terbitan berseri, kliping, laporan kegiatan dan koleksi arsip proyek pemugaran Candi Borobudur. Buku-buku koleksi perpustakaan tersebut mengupas tentang Borobudur yang meliputi kajian tentang sejarah, arkeologi, arsitektur, konservasi, geologi dan fotografi. Selain itu terdapat juga koleksi buku-buku ilmu murni meliputi Fisika, Biologi dan Kimia. Selain buku-buku, perpustakaan juga menyimpan arsip gambar sejak masa pemugaran I (1907-1911), dan masa pemugaran II (1973-1983) sampai sekarang. Arsip-arsip tersebut berupa gambar pada kertas kalkir dari berbagai ragam bentuk dan ukuran (B.0 – B.4), disimpan dalam almari khusus yang terbuat dari besi dengan posisi tergantung.

  1. Laboratorium,

a. Laboratorium Kimia, melakukan analisis terhadap sampel cair dan padat yang berasal dan berhubungan dengan kegiatan konservasi Candi Borobudur serta benda cagar budaya lainnya.

b. Laboratorium Mikrobiologi, melakukan penelitian dan analisis terhadap berbagai jenis mikroorganisme penyebab pelapukan baik yang ditemui di Candi Borobudur maupun pada benda                  cagar budaya lainya di seluruh Indonesia.

c. Laboratorium Fisik/Petrografi, melakukan analisis petrologi, petrografi, dan fisik terhadap sampel padat yang berasal dan berhubungan dengan kegiatan konservasi Candi Borobudur serta              sampel dari institusi terkait lainnya.

d. Laboratorium SEM (Scanning Electron Microscope), melakukan scanning terhadap sampel padat untuk mengetahui mikrostruktur sampel tersebut.

e.Laboratorium Konservasi, melakukan pengujian konservasi terhadap berbagai bahan yang akan digunakan dalam penanganan konservasi benda cagar budaya di seluruh Indonesia.

  1. Stasiun Klimatologi

Terdapat dua stasiun klimatologi, satu stasiun terletak di sebelah Tenggara Candi Borobudur yang dioperasikan secara manual dan satu stasiun klimatologi digital terletak di depan Kantor Balai Konservasi Borobudur yang dioperasikan menggunakan komputer. Stasiun klimatologi berfungsi untuk menunjang pelaksanaan konservasi batu Candi Borobudur dan pelaksanaan studi konservasi yang dilaksanakan di sekitar Candi Borobudur. Kontribusi dari stasiun klimatologi ini yaitu membantu pengumpulan data untuk prakiraan cuaca di Jawa Tengah, membantu instansi terkait yang memerlukan data klimatologi untuk keperluan pertanian.

  1. Laser Scanner Fotogrammetri

3D Laser Scanner adalah metode perekaman data (dokumentasi) dengan akurasi yang sangat tinggi, detail, dan akurat, menggunakan sistem laser yang merekam data 3 dimensional (x,y,z) permukaan obyek tanpa menyentuh/bersinggungan langsung dengan obyek itu sendiri. Adapun manfaat dari 3D Laser Scanner untuk pendokumentasian Benda Cagar Budaya adalah sebagai data untuk pelaksanaan rekonstruksi bangunan BCB, perekaman data pada obyek BCB yang rawan dan beresiko rusak, data monitoring obyek/bangunan BCB, data untuk replika obyek 3 dimensi, sarana edukasi, dan penelitian BCB. Data yang dihasilkan 3D Laser Scanner dapat digunakan untuk menghasilkan data gambar 2D dan 3D, menghasilkan data yang detail, akurat, sub milimetric data, menangkap data dengan cepat, menangkap data dengan jumlah yang sangat besar dengan akurasi tinggi, Sangat ideal digunakan sebagai media peraga dan visualisasi, mempunyai tingkat interpretasi dan edukasi data/dokumentasi secara lengkap Adapun yang menjadi perhatian dalam kegiatan perekaman data dengan 3D Laser Scanner adalah sangat tergantung dengan ketersediaan tenaga listrik, kondisi alam/cuaca sangat berpengaruh terhadap hasil perekaman data, dan mobilisasi alat untuk medan yang sangat rumit dan sulit.

Aplikasi 3D Laser Scanner untuk pendokumentasian BCB yang telah dilakukan oleh Balai Konservasi Borobudur, antara lain: Monitoring BCB Pasca Gempa di DIY dan Jawa Tengah, Candi Pawon, Pusat Informasi Majapahit dan sebagian situs di Jawa Timur, Patung Sudirman di Pacitan, Situs Kedulan, Candi Gedong Songo, Pasca Gempa SUMBAR dan Riau (Jam Gadang, Muara Takus, dan situs yang lain), Candi Lumbung Sengi Magelang, Kompleks Candi Dieng, Kompleks Candi Borobudur, Panel Relief Candi Borobudur, dan Situs Kimpulan (Candi Pustakasala UII).

  1. Studio Sejarah Restorasi Borobudur

Studio Sejarah Restorasi Borobudur diresmikan oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan Prof. Wiendu Nuryanti, Ph.D  27 Desember 2011. Sejak dibuka untuk umum jumlah kunjungan ke studio restorasi mengalami peningkatan terutama kunjungan dari para pelajar baik SD, SMP, SMA, mahasiswa dan beberapa perguruan tinggi.

Studio Sejarah Restorasi Candi Borobudur didirikan dengan visi menjadi sarana pendidikan dan penyebarluasan informasi mengenai sejarah restorasi Borobudur sebagai warisan budaya dunia yang dapat menumbuhkan rasa kecintaan terhadap tanah air, persatuan, dan kebanggaan terhadap Negara. Harapan ke depan studio sejarah ini menjadi pusat informasi,  dokumentasi dari upaya konservasi Candi Borobudur.

Informasi yang disediakan berupa sejarah restorasi candi Borobudur sejak sebelum, saat berlangsung dan setelah restorasi serta kegiatan konservasi yang terus dilaksanakan oleh Balai Konversai Borobudur. Untuk memenuhi tujuan tersebut di atas, studio menyajikan koleksi berupa artefak arkeologis, peralatan konservasi, foto-foto dokumentasi serta benda bersejarah lain seperti kendaraan operasional Dr. R. Soekmono, satu dari dua ahli arkeologi pertama di Indonesia yang memimpin proyek restorasi di tahun 1973-1983. Melalui beragam koleksi yang dipamerkan membuka cakrawala baru bagi para pengunjung studio mengenai Candi Borobudur yang bisa dilihat dari berbagai disiplin ilmu.

 

Related Posts