Pelatihan Satuan Pengaman Warisan Dunia

 Pelatihan Pelestarian Cagar Budaya

Dibandingkan dengan peringatan hari internasional lain seperti hari anak sedunia, hari AIDS sedunia, hari bebas tembakau sedunia, atau yang terakhir hari air sedunia, tanggal 18 April sebagai hari situs dan monumen sedunia kurang begitu dikenal. Hari situs dan monumen sudah ditetapkan cukup lama, pertama kali diusulkan oleh ICOMOS (International Council on Monuments and Sites) tahun 1982 dan selanjutnya ditetapkan oleh UNESCO pada sidang umumnya ke-22 tahun 1983. Hari situs dan monumen ditetapkan dalam rangka memberikan kesempatan untuk peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya warisan dunia serta semangat untuk melindungi dan melestarikan sekaligus untuk memahami nilai-nilai luhurnya.

Hari situs dan monumen sering juga disebut sebagai hari warisan dunia (World Herittage Day). Indonesia yang merupakan anggota UNESCO dan telah menjadi bagian dari masyarakat warisan dunia karena telah meratifikasi konvensi UNESCO tentang world heritage sudah selayaknya ikut memperingati hari ini.

Indonesia juga sudah memiliki warisan dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO. Hingga saat ini telah ada 7 situs yang telah ditetapkan. Tiga diantaranya adalah situs warisan budaya, yaitu Borobudur (No. 592 tahun 1991), Prambanan (No.642 Tahun 1991), dan Situs Manusia Purba Sangiran (No. 593 Tahun 1996). Sedangkan empat lainnya adalah situs alam, yaitu Taman Nasional Komodo (No.609 Tahun 1991), Taman Nasional Ujung Kulon (No.608 Tahun 1991), Taman Nasional Lorenz (No.995 Tahun 1999), dan Hutan Hujan Tropis Sumatera (No. 1167 Tahun 2004). Sebagai tambahan UNESCO juga telah mengakui tiga warisan budaya lainnya yang masuk dalam kategori intangible (tak benda), yaitu Wayang (2003), Keris (2006), dan terakhir yang masih terasa gaungnya yaitu Batik (2009).

Berbagai kegiatan disarankan untuk memperingati hari situs dan monumen sedunia untuk mendukung tujuan pencanangan yang telah digariskan. Kegiatan-kegiatan yang disarankan untuk diorganisir secara nasional antara lain; kunjungan ke situs dan monumen serta pekerjaan konservasi yang dilakukan dengan bebas biaya, publikasi media cetak dan elektronik, pelaksanaan diskusi-diskusi, pameran, dan peningkatan kesadaran generasi muda termasuk anak-anak sekolah. Pada peringatan hari situs dan monumen sedunia juga dapat dilakukan pemberian penghargaan kepada insan yang dinilai berjasa besar terhadap konservasi dan promosi warisan dunia atau peresmian situs serta monumen yang selesai dipugar.

Tema peringatan hari situs dan monumen sedunia tahun 2010 ini adalah “the heritage of agriculture”. Pertanian menjadi tema penting karena saat ini cukup banyak warisan dunia pertanian yang telah tercatat dalam daftar warisan dunia UNESCO. Hingga tahun 2009 telah tercatat 21 bentang budaya (cultural landscape) yang berkaitan dengan pertanian dari sebanyak 890 situs yang ada dalam daftar warisan dunia. Situs pertama yang masuk adalah teras padi Cor de Laras di Filipina, namun sayang situs tersebut saat ini masuk dalam pengawasan UNESCO karena berkategori sebagai situs dalam bahaya. Indonesia sendiri saat ini sedang menggodok pengajuan Bali Cultural Landscape sebagai warisan dunia. Salah satu unsur dalam bentang budaya Bali tentu saja adalah teras padi dengan pengairan sistem subak yang sangat tersohor tersebut. Usaha pengajuan Bali sebagai nominasi warisan dunia sudah dilakukan sangat lama, namun mengingat ketatnya penilaian hingga saat ini belum dapat ditetapkan. Semoga dengan pencanangan tema pertanian pada peringatan hari situs dan monumen sedunia dapat mendorong untuk masuknya Bali dalam daftar warisan dunia tahun ini.

Momen peringatan hari situs dan monumen sedunia sesuai dengan semangat awal pencanangannya sangat strategis untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan warisan dunia. Pertama, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat akan predikat penting warisan dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO kepada beberapa situs di atas. Saat ini praktis masyarakat kurang mengetahui akan penetapan ini. Padahal penetapan suatu situs sebagai warisan dunia membutuhkan proses dan kerja keras yang sangat panjang. Di samping itu, pengelolaan situs warisan dunia harus dilakukan secara benar sesuai standar pengelolaan yang ditetapkan UNESCO. Sehingga sangat disayangkan jika kerja keras untuk memasukkan situs dalam daftar warisan dunia dan mempertahankannya justru tidak diketahui oleh masyarakat sebagai “pemilik” sebenarnya dari warisan budaya dan alam. Salah satu contoh misalnya untuk Borobudur, masyarakat lebih mengetahui Borobudur sebagai tujuh keajaiban dunia dibanding sebagai situs warisan dunia. Padahal tujuh keajaiban dunia merupakan predikat yang tidak resmi, subjektif, dan juga bercampur mitos. Sedangkan situs warisan dunia sebagai status yang resmi dan prestisius serta ditetapkan dengan proses yang panjang, jelas, ketat, dan terukur justru kurang tersosialisasi.

Kedua, Momen peringatan hari situs dan monumen sedunia sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti penting warisan budaya. Kesadaran tentang pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam situs warisan budaya dapat meningkatkan semangat untuk melestarikan. Indonesia sebagai negara yang sangat kaya dengan peninggalan sejarah dan purbakala membutuhkan kesadaran yang tinggi agar perhatian dan semangat melestarikan senantiasa timbul. Beberapa peristiwa yang terjadi seringkali mengakibatkan perusakan atau penghancuran kekayaan warisan budaya atas nama pembangunan. Sebut saja perusakan Stadion Menteng untuk pembangunan Parkir, Perusakan Gandok Tengen untuk pembangunan Ambarukmo Plasa, Penghancuran bioskop bersejarah di Bangka, kasus Benteng Vastenberg di Solo, dan terakhir yang menyebabkan peristiwa berdarah-darah yaitu penggusuran makam Mbah Priuk untuk perluasan pelabuhan. Semoga dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat dan para pengambil kebijakan, kekayaan warisan budaya dan alam di bumi Indonesia semakin lestari dan tidak terjadi lagi peristiwa-peristiwa perusakan maupun penghancuran.

 

Related Posts