Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Berbahan Kayu

 Berita

 

Kamis (18/04/13) Balai Konservasi Borobudur kembali melaksanakan diskusi bulanan pengkayaan staf teknis dengan mengangkat tema “Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Berbahan Kayu”. Pemakalah dalam materi ini adalah Leliek Agung Haldoko, S.T, staf Balai Konservasi Borobudur yang beberapa waktu yang lalu mengikuti Workshop Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Berbahan Kayu di Martapura, Kalimantan Selatan.

Diskusi tersebut menjelaskan beberapa hal yang dilakukan pemerintah Jepang dalam  Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Berbahan Kayu di negaranya. Di Jepang sudah lama terdapat perundang-undangan yang mengatur pelestarian Cagar Budaya Berbahan Kayu, salah satunya membuat standar dalam pelestarian. Berikut beberapa standar yang ada di Jepang:

Standar 1 : komponen yang dilestarikan bahan itu sendiri

Standar 2 : komponen yang dilestarikan berdasarkan bentuk, bahan, pengerjaan  dan pewarnaan bahan

Standar 3 : komponen yang dilestariakan berdasarkan bentuk dan pewarnaan bahan

Standar 4 : komponen yang dilestarikan berdasarkan desainnnyaestarian

Standar 5 : komponen yang diserahkan pada pertimbangan yang bebas dari pemilik

Menurut Liliek penilaian mengenai dasar klasifikasi standar tersebut masih bersifat sangat subyektif karena tidak ada standar baku, sehingga klasifikasi yang dilakukan tergantung penilaian dari pengamat. Menurutnya penanganan pelestarian Cagar Budaya Berbahan Kayu yang dilakukan hanya sebatas tahapan penanganan saja, sedangkan konservasi terhadap cagar budaya masih belum dilakukan.

Sejalan dengan pendapat Liliek, Koordinator Kajian dan Laboratorium Ari Swastikawati, M.A juga berpendapat beberapa hal mengebai konservasi cagar budaya Indonesia tidak kalah dari Jepang, bahkan beberapa kali mereka malah belajar dari kita. Melihat kondisi tersebut kita harus berusaha lebih keras untuk  menggembangkan teknik-teknik konservasi agar dapat menjadi acuan negara lain.

 

Related Posts