Pembinaan Direktur Jenderal Kebudayaan di Balai Konservasi Borobudur

 Berita

Rabu (12/02/14) Balai Konservasi Borobudur mendapat kunjungan dan pembinaan dari Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Kacung Marijan, Ph.D., dalam pembinaan itu disampaikan bahwa Balai Konservasi Borobudur harus lebih berkembang baik dari segi kajian konservasi, fasilitas laboratorium, dan sumber daya manusianya.

 

Ke depan Balai Konservasi Borobudur diharap tidak hanya berkembang dalam pelasanaan kajian konservasi dan pelatihan tenaga teknis cagar budaya saja namun juga menjadi pembina konservasi di Indonesia sehingga kerjasama dengan UPT di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan bisa lebih ditingkatkan. Apalagi dengan Pengalaman Balai Konservasi Borobudur dalam mengelola candi Borobudur.

Kacung Marijan mengungkapkan bahwa Balai Konservasi Borobudur yang memiliki misi menjadi lembaga konservator cagar budaya tingkat dunia harus berani melakukan lompatan seperti upgrade misi kajian. Hal itu nantinya akan berimplikasi pada peningkatan kualitas laboratorium yang ada sekaligus peningkatan sumber daya manusia, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.”Salah satu tugas pokok  Balai Konservasi Borobudur sebagai lembaga pengembangan tenaga teknis cagar budaya harus didukung SDM yang harus lebih ahli, sehingga SDM disini perlu peningkatan kemampuan individu melalui pelatihan-pelatihan” Ungkap Kacung,  “Bahkan jika harus sampai keluar negeri akan kami fasilitasi” tambahnya.

Khusus untuk para pegawai Balai Konservasi Borobudur jangan hanya berfikiran bekerja di Borobudur saja, kita harus berani membuka diri untuk berkarir ditempat lain sehingga bisa menambah pengalaman dan kemampuan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Ir. Drs. Nono Adya Supriyatno, M.T. Arch mengatakan bahwa sangat mengapresiasi fasilitas yang ada di Balai konservasi Borobudur khususnya 3D laser scanner. Nono baru mengetahui jika di Indonesia ada lembaga yang memiliki 3D laser scanner, sehingga dia sangat berharap kedepan kegiatan-kegiatan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bisa memanfaatkan 3D laser scanner bisa melibatkan Balai Konservasi Borobudur.

Selain itu untuk meningkatkan koordinasi antar pegawai jika memiliki masalah atau kendala dalam melaksanakan kegiatan harus segera melapor kepada pimpinan agar segera dicari solusinya. Namun  orientasi yang diambil jangan mencari kesalahan siapa tetapi orientasi pada pemecahan permasalahan.

Dalam kunjungan dan pembinaan ini Dirjen dan Setditjen Ingin melihat langsung kondisi lapangan Balai Konservasi Borobudur beserta fasilitas pendukungnya seperti Laboratorium Biologi, Kimia, Fisik, Scanning Electro Microscope, alat peraga berupa candi batu dan bata, serta Studio Sejarah Restorasi Candi Borobudur. Selain itu mereka juga ke Candi Borobudur untuk melihat langsung kondisi candi.

Related Posts