Seminar Borobudur: Dulu, Kini, dan Esok

 Berita

Tanggung jawab kelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia berada pada tangan kita semua bukan hanya tugas pemerintah tetapi juga masyarakat”.

Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Timbul Haryono dalam Seminar Borobudur: Dulu, Kini, dan Esok yang diselenggarakan di Hotel Manohara selasa (27/12/11)

Tanggung jawab itu harus kita lakukan untuk menjaga warisan nenek moyang kita dan menghargai apa yang van erp lakukan 100 tahun yang lalu dalam memugar candi Borobudur agar tetap berdiri kokoh. Prof. Dr. Timbul Haryono salut dengan apa yang Van erp kerjakan, meskipun bukan seorang arkeolog Van Erp dalam memugar candi Borobudur tetap berusaha menjaga keaslian Struktur candi.

Seperti catra yang semula disusun dan dipasang oleh van erp kemudian diturunkan kembali, karena dia merasa tidak berhak merubah struktur catra. dan hingga sekarang pun catra tidak dipasang kembali karena keterbatasan data mengenai catra, sehingga apabila dipasang akan mengurangi otentisitas candi tambah Prof. Dr. Timbul Haryono.

Hal senada dilontarkan oleh Prof. Dr. Mundardijto, menurutnya kita tidak boleh menambah atau mengurangi struktur atau bagian candi dengan alasan apapun jika tidak punya data yang jelas, apalagi Candi Borobudur kini merupakan warisan dunia yang bukan lagi milik masyarakat Indonesia saja akan tetapi kini sudah milik dunia.

Selain Prof. Dr. Timbul Haryono dan Prof. Dr. Mundardijto dalam seminar tersebut juga hadir mantan Dirjen Sejarah Purbakala dimasa pemugaran II Dr. IGN. Anom, menurut beliau kedepan kita harus mempunyai buku panduan tentang konservasi yang berisi mengenai prinsip-prinsip konservasi dan metodologi konservasi. Sebisa mungkin hal itu segera diwujudkan mengingat para pensiunan pemugaran II Candi Borobudur sudah berusia lanjut agar informasi yang mereka miliki bisa terkumpul.

Seminar tersebut ditutup oleh Kepala BKP Borobudur Drs. Marsis Sutopo, M.Si. menurutnya Candi Borobudur adalah salah satu sumber ilmu yang harus terus digali informasinya, sehingga menjadi tantangan kita bersama untuk menjadikannya salah satu sumber kajian arkeologi dan konservasi.

Related Posts