Studio Sejarah Restorasi Perwujudan Kecil Candi Borobudur (1)

 Cagar Budaya, Info Budaya

oleh: Irfan Waskitha Adi (Mahasiswa Arkeologi Universitas Gajah Mada)

Terletak pada sebuah kawasan pedesaan asri di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang berdekatan dengan 3 kota besar Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Masih banyak tafsir mengenai pendirian awal Candi Borobudur. Siapa yang membuat? Dan bagaimana prosesnya masih membawa perdebatan di berbagai kalangan. Baik akademisi maupun non-akademisi, tentu saja semua memiliki keyakinan tersendiri.

Disamping semua perdebatan itu Candi Borobudur merupakan candi yang menganut aliran Buddha Mahayana. Mahayana merupakan salah satu aliran yang mempercayai bahwa dengan bantuan Para Buddha dan Bodhisattva manusia dapat mencapai titik Purusa[1] dan Prakrti[2] menyatu dan menciptakan Kelepasan[3] yang melepaskan dari Samsara[4], bantuan tersebut disebut juga bodhisatvayana.

Lokasi Borobudur juga merupakan salah satu lokasi yang strategis untuk pertanian karena memiliki tanah yang subur dan udara yang sejuk. Namun, disisi lain Borobudur juga dikelilingi oleh gugusan pegunungan dan perbukitan yaitu, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Andong, Gunung Tidar, Gunung Telomoyo, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Perbukitan Menoreh. Hal ini menyebabkan Candi Borobudur dan situs sekitarnya merupakan salah satu daerah yang rawan bencana gempa dan gunung berapi.

Beberapa kali Candi Borobudur harus terselimuti abu vulkanik seraya letusan merapi. Bahkan sudah sejak dimasa lalu Candi Borobudur menjadi salah satu daerah yang terkena dampak letusan Gunung Merapi. Selain itu tidak sekali atau dua kali Candi Borobudur juga menjadi ancaman pelampiasan perbuatan manusia yang salah sasaran. Menjadi sebuah kambing hitam dari berbagai macam aksi pengerusakan. Bahkan pernah menjadi sasaran aksi terorisme pada tahun 1985. Bapak R. Soekmono yang merupakan penanggung jawab Candi

Borobudur pada masa itu pun menitikan air mata setelah mengetahui sembilan stupa rusak parah karena ledakan bom. Tentu saja pelaku berhasil tertangkap pada tahun 1991. Sekelompok teroris radikal yang mengatasnamakan Islam yang dipelopori oleh dua orang bersaudara Abdulkadir bin Alhabsyi dan Husein bin Alhabsyi.

Sebuah cagar budaya wajib mendapatkan pelestarian dan perlindungan sebagaimana yang sudah dijelaskan pada UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pelestarian adalah upaya untuk mempertahankan keberadaan cagar budaya. Sedangkan pelindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan dengan cara penyelamatan, pengamanan, zonasi, pemeliharaan, pemeliharaan dan pemugaran. Terbentuklah Balai Konservasi Borobudur sebagai sebuah Unit Pelaksana Teknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Berbagai macam pengkajian mengenai konservasi baik berfokuskan pada Candi Borobudur sebagai fokus utama maupun konservasi dalam berbagai macam cagar budaya. Dengan visi terwujudnya Balai Konservasi Borobudur sebagai lembaga pelestarian kelas dunia. Sedangkan mengemban misi, pertama meningkatkan kualitas kajian konservasi cagar budaya dengan metode penelitian ilmiah yang bermanfaat dan berkesinambungan. Kedua, meningkatkan kualitas dan kuantitas serta profesionalitas sumber daya manusia dalam bidang pelestarian cagar budaya. Ketiga, mengoptimalkan pelestarian Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia. Dan terakhir, meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pelestarian cagar budaya.

Dalam rangka terwujudnya visi dan misi tersebut Balai Konservasi Borobudur memiliki sebuah fitur menarik bagi masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran publik dalam pelestarian cagar budaya, yaitu Studio Sejarah Restorasi Borobudur yang diresmikan pada Desember 2011. Bagaimana cara agar dapat mencapai tahap paham dan sadar akan pelestarian cagar budaya? Tentu saja dengan mengenalkan tinggalan dari cagar budaya tersebut dan bagaimana upaya pelestarian itu. Ada pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang” tentu saja dengan mengenal lebih mengenai hal tersebut maka menjadi terbiasa dan dapat memahami kenapa harus dilakukan pelestarian.

Sebagai contoh konkretnya, Magelang menjadi salah satu tujuan utama wisata di kalangan dunia karena adanya Candi Borobudur. Sejarah umat manusia merupakan hal yang sangat menarik berbagai kalangan karena pada dasarnya manusia ingin mengerti identitas mereka. Ingin mengerti sebatas apa kemampuan mereka agar dapat dijadikan acuan untuk masa kini dan mengambil pilihan terbaik di masa depan. Magelang menjadi sebuah kota terkenal tidak kalah dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta karena adanya cagar budaya yang dikenal dengan Borobudur. Penanam nilai penting ini akan membuat masyarakat lebih paham mengenai upaya pelestarian dan pentingnya.

Selain itu Studio Sejarah Restorasi Candi Borobudur merupakan wajah atau perwakilan dari pelestarian yang dilakukan terhadap Borobudur dengan berbagai macam koleksinya memiliki nilai sejarah yang tak ternilai. Berbagai koleksi seperti literatur yang ada pada masa kolonial mengenai Candi Borobudur ditampilkan. Blue Print yang digunakan ketika penggalian dan restorasi pada masa itu dapat dilihat di ruang permulaan atau ruang depan. Kemudian ditambah dengan maket rencana pengembangan Candi Borobudur, Pawon, dan Mendut kedepannya dapat ditemukan di ‘Ruang Sejarah Restorasi’.

Studio Sejarah Restorasi Perwujudan Kecil Candi Borobudur (2)

[1] Purusa adalah asas rohani dimana berhubungan dengan perasaan manusia atau roh manusia dan keinginan hawa nafsu. Purusa menjadi kata dasar Perasaan di Bahasa Indonesia.

[2] Prkerti adalah asas bendawi berhubungan dengan keinginan manusia pada benda-benda dan raganya pada  kegiatan yang berhubungan dengan materi sebagai pemuas hasrat.

[3] Kelepasan adalah sebuah tahapan penyatuan antara kedua aspek dan menciptakan pencerahan bagi manusia sehingga tidak terhasut oleh duniawi.

[4] Samsara adalah sebuah serangkaian lingkaran yang dialami manusia yang belum tercerahkan yang akan mengalami berbagai macam kejadian menyengsarakan dan hal berhubungan dengan duniawi pada setiap kehidupan yang terulang.

Related Posts