Stupa Teras Candi Borobudur Disemprot Air

 Berita

Memasuki hari ketiga pembersihan abu vulkanik Gunung Kelud, bagian stupa teras Candi Borobudur mulai dilakukan pembersihan basah, pembersihan ini menggunakan air bertekanan untuk menghilangkan sisa-sisa abu vulkanik yang masih menempel di batu candi.

Kepala Seksi Layanan Konservasi Balai Konservasi Borobudur Iskandar M. Siregar S.Si mengatakan bahwa hari ini pembersihan basah dilakukan di semua bagian stupa teras, oleh karena itu dia berharap pasokan air ke atas candi bisa berjalan lancar agar tidak menghambat proses pembersihan. Menurutnya pembersihan basah cukup efektif dalam membersihkan sisa abu  yang masih menempel di batu candi apalagi di bagian candi yang sulit dijangkau.

“Dari pengalaman kami melakukan pembersihan abu vulkanik Gunung Merapi tahun 2010 yang lalu pembersihan basah cukup efektif untuk menghilangkan sisa abu, namun dalam penyemprotan air bertekanan ini harus diatur tekanan airnya agar tidak merusak batu” ungkap Iskandar.

Selain Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon juga dilakukan pembersihan basah, bahkan di kedua candi ini sudah hampir selesai dalam pembersihannya. Kepala Balai Konservasi Borobudur Drs. Marsis Sutopo M.Si yang memantau proses pembersihan mengatakan bahwa dihari ketiga pembersihan abu vulkanik Gunung Kelud di Candi Mendut dan Candi Pawon sudah hampir selesai pembersihannya.

“Saya berharap pembersihan di Candi Mendut dan Candi Pawon bisa selesai hari ini sehingga besok bisa kita lakukan pembenahan sebelum dibuka untuk umum” ungkap Marsis. “Untuk Candi Borobudur hari ini ditargetkan selesai pembersihan basah distupa teras dan besok dilanjutkan di lorong-lorong candi” tambahnya.


Hari ini sejumlah relawan juga masih berdatangan membantu proses pembersihan di Candi Borobudur. Tercatat di Posko Relawan Balai Konservasi Borobudur sebanyak 283 orang menjadi relawan, mereka berasal dari Kodim Magelang, Hotel Manohara, Himpunan Pramuwisata Indonesia, Kopari, Purna Tugas Balai Konservasi Borobudur, Majelis Udayana, Hikmah Buddhi Semarang, Pedagang Asongan, dan masyarakat.

 

Related Posts