Stupika Borobudur (1)

 Info Budaya, Jurnal dan Artikel

2.307 stupika dan 252 tablet bahan tanah liat ditemukan dalam satu pit pada tahun 1974 di halaman barat Candi Borobudur. Lokasi ini pada saat itu direncanakan untuk menjadi bengkel kerja pemugaran sehingga ekskavasi percobaan segera dilakukan setelah kepemilikan tanahnya dibebaskan pada bulan Maret 1974. Penggalian ini dilaksanakan oleh tim arkeologis yang dipimpin oleh I.G.N Anom dan Nurhadi. Adapun stupika dan tablet yang ditemukan tidak diproduksi dengan dibakar.

Selain di Borobudur, di beberapa lokasi di Indonesia dan Asia Tenggara juga ditemukan artefak stupika dan tablet, seperti di Ungaran, Pejeng, Banyuwangi, Palembang, Burma, Thailand dan Malaysia. Ukuran stupika Borobudur yang paling besar mempunyai tinggi 13,5 cm dan paling rendah hanya 4 cm, sehingga apabila dibandingkan dengan stupika dari Banyuwangi dan Pejeng, ukurannya relatif lebih kecil.

Stupika dan tablet ini kemungkinan dibuat dengan cetakan yang terbuat dari tembaga. Contoh cetakan ini ada di koleksi Museum Nasional, Jakarta dan temuan dari Klaten yang saat ini tersimpan di BPCB Jawa Tengah. Namun, cetakan tembaga ini belum pernah ditemukan di area sekitar Borobudur.

Di bagian bawah beberapa stupika terdapat tulisan beraksara Jawa Kuno, yang berisi mantra-mantra Buddha seperti om ye te swãhãi, sehingga penanggalan stupika dapat dilakukan dengan bukti paleografi. Akan tetapi, aksara yang digunakan ternyata bukan aksara kerajaan sehingga tidak dapat dibandingkan dengan prasasti yang resmi dikeluarkan oleh raja. Sementara itu hasil pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa bentuk huruf satu mantra dengan mantra lain berbeda sehingga dimungkinkan tidak ditulis oleh satu orang saja.

Data tersebut menunjukkan bahwa para peziarah di masa lalu memesan stupika dan menulis mantranya sendiri atau dituliskan oleh salah satu biksu yang menjalankan ritual. Walaupun tipe tulisan aksaranya bervariasi, sebuah karakteristik dapat dilihat pada penulisan setiap aksara yang mempunyai ‘bendera’ kecil diatasnya. Dari observasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa stupika tersebut tidak mungkin lebih muda dari pertengahan abad ke-9 M.

Artikel selanjutnya

Related Posts