Topik-Topik Studi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur 2008

 Pelatihan Pelestarian Cagar Budaya

Program kerja Balai Konservasi Peninggalan Borobudur yang dilaksanakan oleh kelompok kerja Kajian dan Pengembangan salah satunya adalah pelaksanaan studi kajian. Pada tahun 2008 ini direncanakan akan dilaksanakan 12 judul studi. Studi-studi yang akan dilaksanakan sebagian berlokasi di Borobudur (sebanyak 8 judul), dan 4 judul lainnya dilaksanakan di wilayah kerja BP3 lain. Hal ini sesuai dengan tupoksi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dalam pelaksanaan studi kajian.Di lingkungan candi Borobudur perlu dilakukan kajian tentang sistem pengamanan mengingat tantangan keamanan ke depan yang semakin berat. Sehingga akan dilakukan kajian dengan judul Pengembangan Sistem Pengamanan Situs Borobudur yang akan diampu oleh Sugiono, SH sebagai koordiantor tim dan Aris Haryono serta Wahyu Setiono sebagai anggota.

Kajian ilmu dasar untuk mengungkap ”misteri” di balik keagungan Borobudur masih diperlukan. Nilai-nilai penting Borobudur dari berbagai aspek keilmuan harus senantiasa diungkap untuk semakin membuka cakrawala baru dalam memandang Borobudur sebagai masterpiece. Pada tahun ini akan dilakukan studi dengan judul Pola dan Dimensi Lorong I Candi Borobudur oleh tim yang terdiri dari Tukidjan, BA sebagai ketua, dengan anggota Pramudianto Dwi Hantoro, S.Pd.T dan Yuli Hari Prasetyoko, A.Md. Secara sekilas lorong tingkat 1 candi Borobudur memilki pola dimensi yang berbeda dengan lorong lainnya, sehingga perlu diungkap lebih lanjut secara ilmiah.

Studi Evaluasi Struktur Permukaan Halaman Candi Borobudur dan Korelasinya dengan Keausan Batu Tangga perlu dilakukan karena kondisi halaman yang membutuhkan pembenahan. Halaman candi Borobudur pernah dilakukan pembenahan dengan penanaman hamparan rumput dan jalur pengunjung di sekeliling candi dengan dasar pasir. Keberadaan pasir di sekeliling candi mampu memberikan kestabilan permukaan tanah, namun di sisi lain dapat berakibat buruk terhadap batu tangga akibat pasir yang terbawa sepatu pengunjung mempercepat keausan. Studi ini diampu oleh tim yang terdiri dari Brahmantara, ST sebagai ketua dan Muhsidi serta Wahyudi sebagai anggota.

Berdasarkan rekomendasi Expert Mission UNESCO 2007 oleh Mr. Costantino Muecci, perlu dilakukan analisis secara komprehensip terhadap keberadaan mortar pemugaran I (oleh van Erp). Komposisi material perlu dikaji, terutama mengenai keberadaan semen dan kemungkinan dampak negatifnya terhadap batu. Studi ini akan diampu oleh ketua tim Nahar Cahyandaru, S.Si dan anggota Yudi Atmaja serta Arif Widodo, dengan judul Analisis Mortar Pemugaran I dan Kajian Kemungkinan Dampaknya Terhadap Kelestarian Candi Borobudur.

Pelestarian Borobudur tidak hanya pada candinya saja namun juga lingkungan dan kawasannya. Berdasarkan masterplan, telah dibuat sistem pemintakatan (zonasi) pada kawasan Borobudur. Zona 3, 4, dan 5 yang meliputi kawasan luas di sekitar Borobudur secara langsung mengalami perubahan akibat pemanfaatan lahan oleh masyarakat. Oleh karena itu diperlukan studi Evaluasi Perubahan Tata Guna Lahan pada Zona 3, 4, dan 5, untuk mengetahui “tekanan” pembangunan terhadap Borobudur. Studi ini akan diampu oleh Budjono sebagai ketua, dengan anggota M. Chozin dan A. Chabib.

Kondisi zona 1 saat ini juga masih membutuhkan pengembangan untuk mendukung kelestarian candi Borobudur. Zona 2 juga perlu penataan dan pengembangan untuk mendukung pemanfaatan yang berwawasan pelestarian. Kajian Pemanfaatan dan Pengembangan Zona 1 dan 2 akan dilaksanakan oleh Isni Wahyuningsing, S.S, dengan anggota Dahroni, dan Heri Yulianto.

Perubahan iklim global saat ini menjadi topik hangat di seluruh belahan dunia. Di lingkungan Borobudur perlu dilakukan studi Dampak Perubahan Iklim Global terhadap Candi Borobudur; Kajian Data Stasiun Klimatologi. Data stasium klimatologi yang telah terkumpul selama puluhan tahun dapat dianalisis sebagai identifikasi terjadinya perubahan iklim dan analisis kemungkinan dampaknya. Studi ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari Wiwit Kasiyati, S.S, dengan anggota Arif Gunawan dan Basuki Rahmat.

Metode konservasi BCB harus senantiasa dikembangkan untuk mendapatkan metode yang paling efektif dan efisien. Metode konservasi yang berasal dari kearifan budaya lokal dapat dikembangkan sebagai sumber inspirasi. Studi Penggunaan Metode Tradisional dalam Pembersihan (Penjamasan) BCB Berbahan Logam akan dilaksanakan dengan ketua tim Ari Swastikawati, S.Si dengan anggota Al. Widyo Purwoko dan Rifki Kurniadi.

Di samping studi/kajian yang dilakukan di Borobudur, juga dilakukan studi di situs lain. Kajian yang dilakukan di wilayah kerja BP3 DIY, yaitu Kajian Konservasi Situs Kedulan. Situs Kedulan yang mempunyai nilai budaya yang tinggi saat ini mengalami permasalahan drainase, karena merupakan candi yang sebelumnya terpendam dalam tanah. Tim kajian ini di ketuai oleh Suyanto dengan anggota Brahmantara, ST dan Slamet.

Kajian mengenai material bata pada bangunan BCB akan mempelajari karakteristik bata di BCB pada wilayah kerja BP3 Bali. Studi dengan judul Kajian Karakteristik Material BCB Bata di ketuai oleh Sudibyo, dengan anggota Al Santoso dan Puji Santoso. Kajian BCB bata lainnya akan dilaksanakan di wilayah kerja BP3 Jambi. Kajian yang diketuai oleh Nahar Cahyandaru, S.Si dengan anggota Ajar Priyanto dan Sarman akan mengambil judul Kajian Konservasi Situs Muara Jambi. Kajian yang dilakukan di luar wilayah BP3 lainnya adalah Kajian Konservasi Lukisan Dinding Gua di Maros dan Pangkep. Kajian yang mengkaji beberapa lukisan gua di daerah Maros dan Pangkep (Sulawesi Selatan) akan meliputi studi material dan kondisi lingkungan mikro, serta tindakan konservasinya. Kajian ini beranggotakan Yudi Suhartono, S.S sebagai ketua dan Yudi Atmaja serta Riyanto Prasetyo sebagai anggota.
>Pokja Kajian dan Pengembangan

Related Posts