KARIBIA – Ketegangan di kawasan perairan Karibia meningkat menyusul aksi pengejaran aktif yang dilakukan oleh Penjaga Pantai Amerika Serikat (US Coast Guard) terhadap sebuah kapal tanker minyak asing bernama Bella 1. Insiden ini menandai eskalasi kampanye tekanan maksimum pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap jaringan perdagangan minyak ilegal yang melibatkan Venezuela dan Iran.
Pengejaran di Tengah Status Sanksi Internasional
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari NBC News dan UPI, Bella 1 teridentifikasi sebagai bagian dari “armada gelap” (shadow fleet) yang digunakan untuk menghindari sanksi internasional. Pejabat berwenang AS menyatakan bahwa kapal tersebut menolak untuk berhenti dan menjalani inspeksi saat dicegat di perairan internasional.
Pengejaran ini didasari oleh beberapa pelanggaran hukum internasional yang krusial:
- Identitas Palsu: Kapal terpantau berlayar menggunakan bendera palsu, yang secara hukum internasional memungkinkan otoritas laut untuk melakukan pemeriksaan paksa.
- Surat Perintah Penyitaan: Otoritas federal AS telah mengantongi surat perintah penyitaan dari hakim magistrat, memberikan legitimasi hukum bagi pemerintah AS untuk mengambil alih aset tersebut.
- Kaitan dengan Jaringan Terorisme: Sejak Juni 2024, Bella 1 telah masuk dalam daftar sanksi Departemen Keuangan AS atas dugaan keterlibatan dalam jaringan pengiriman minyak yang dikendalikan oleh Sa’id Al Jamal, seorang fasilitator keuangan kelompok Houthi.
Hubungan Strategis Iran, Venezuela, dan Houthi
Meskipun operasi ini berlangsung di dekat wilayah Venezuela, para pejabat AS mengklarifikasi bahwa dasar utama penyitaan Bella 1 lebih menitikberatkan pada perannya dalam perdagangan minyak mentah asal Iran. Pendapatan dari penjualan komoditas ilegal ini diduga kuat dialirkan untuk mendanai operasional kelompok Houthi di Yaman.
Langkah ini menunjukkan strategi AS untuk memutus rantai pasokan logistik dan pendanaan lintas negara yang menghubungkan Teheran dengan sekutu-sekutunya di Amerika Latin dan Timur Tengah.
Bagian dari Blokade Maritim yang Lebih Luas
Jika Bella 1 berhasil dikuasai, ini akan menjadi kapal tanker ketiga yang disita oleh otoritas Amerika Serikat dalam rangkaian operasi terbaru di kawasan Karibia. Sebelumnya, Penjaga Pantai AS telah menyita sebuah kapal tanker berbendera Panama yang diduga membawa minyak mentah Venezuela dengan tujuan pasar Asia.
Operasi ini merupakan implementasi langsung dari pernyataan Presiden Donald Trump mengenai pemberlakuan blokade terhadap Venezuela guna menekan rezim yang berkuasa. Keberadaan armada militer AS di jalur pelayaran internasional tersebut bertujuan untuk memastikan tidak ada pengiriman energi ilegal yang dapat memperkuat posisi finansial negara-negara yang sedang dikenai sanksi.
Prosedur Penegakan Hukum Maritim
Hingga saat ini, Bella 1 dilaporkan masih berusaha menghindari pengejaran. Menurut hukum laut internasional, kapal yang tidak mengibarkan bendera nasional yang sah atau menggunakan identitas ganda kehilangan perlindungan kedaulatan di laut lepas, sehingga memberikan kewenangan bagi aparat penegak hukum seperti US Coast Guard untuk melakukan tindakan intervensi.
Pemerintah AS menegaskan bahwa tindakan ini adalah bagian dari upaya global untuk menjaga integritas sanksi ekonomi dan memerangi pendanaan terorisme melalui jalur maritim.



