Pyongyang – Pemerintah Korea Utara secara resmi merilis dokumentasi visual yang memperlihatkan kapal selam bertenaga nuklir pertama milik negara tersebut. Melalui media pemerintah KCNA pada Kamis (25/12/2025), Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un tampak meninjau langsung progres pembangunan armada raksasa tersebut di sebuah fasilitas konstruksi bawah tanah yang dirahasiakan lokasinya.
BACA JUGA : Ambisi Ruang Angkasa: Rusia Targetkan Pembangunan Pembangkit Listrik Nuklir di Bulan pada 2036
Spesifikasi dan Kapabilitas Teknis
Berdasarkan data yang dirilis KCNA, kapal selam terbaru ini memiliki bobot benaman mencapai 8.700 ton. Ukuran ini dinilai sangat signifikan karena setara dengan kapal selam serang kelas Virginia milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Meski foto-foto tersebut telah dipublikasikan, laporan dari CNN mengindikasikan bahwa kapal tersebut masih berada dalam tahap penyelesaian akhir dan belum diluncurkan ke laut terbuka.
Berbeda dengan kapal selam diesel-elektrik konvensional yang harus muncul ke permukaan secara berkala untuk mengisi ulang baterai dan sirkulasi udara, teknologi nuklir memungkinkan kapal ini:
- Daya Tahan Operasional: Mampu bertahan di bawah air selama bertahun-tahun, hanya dibatasi oleh stok logistik awak kapal.
- Kecepatan dan Siluman: Memiliki kecepatan jelajah yang lebih tinggi dengan tingkat kebisingan mesin yang minimal, sehingga sulit dideteksi oleh sonar lawan.
- Jangkauan Strategis: Mampu melakukan patroli jauh ke luar perairan regional tanpa terdeteksi.
Konteks Geopolitik dan Perlombaan Senjata
Langkah Korea Utara ini merupakan realisasi dari rencana lima tahun modernisasi militer yang dicanangkan pada Kongres Partai Pekerja 2021. Proyek ini mendapatkan momentum tambahan setelah Korea Selatan memperoleh dukungan dari pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump untuk mengembangkan kemampuan kapal selam nuklir serupa.
Dalam pidatonya, Kim Jong Un menegaskan bahwa kekuatan ofensif yang masif adalah instrumen pertahanan terbaik bagi negaranya. Ia mengkritik keras standar ganda Amerika Serikat yang mengizinkan Seoul mengembangkan teknologi nuklir maritim, yang menurutnya merupakan ancaman langsung terhadap stabilitas keamanan Korea Utara.
“Kami memandang kemampuan ofensif superkuat sebagai perisai terbaik bagi keamanan nasional,” tegas Kim dalam kunjungannya.
Kritik Internasional dan Dampak Kawasan
Munculnya kapal selam nuklir ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pengamat internasional. Profesor Leif-Eric Easley dari Universitas Ewha Womans di Seoul menyatakan bahwa tindakan Pyongyang merupakan pemicu utama instabilitas di kawasan.
“Kim Jong Un mungkin benar bahwa teknologi ini meningkatkan ketidakstabilan, namun dialah yang memulai perlombaan senjata ini,” ujar Easley. Ia menyoroti bagaimana Pyongyang lebih memprioritaskan alokasi sumber daya untuk kediktatoran militer dibandingkan kesejahteraan ekonomi rakyatnya.
Modernisasi Armada Laut Korea Utara
Selain kapal selam nuklir, Korea Utara juga tengah menggenjot proyek maritim lainnya, termasuk:
- Kapal Perusak Rudal Berpemandu: Pembangunan dua unit kapal perusak baru untuk memodernisasi armada permukaan.
- Senjata Hipersonik: Pengembangan wahana luncur yang mampu menghindari sistem pertahanan rudal canggih.
- ICBM: Pengembangan rudal balistik antarbenua dengan daya jangkau hingga daratan Amerika Serikat.
Keberhasilan pembangunan kapal selam berkapasitas 8.700 ton ini menempatkan Korea Utara di jalur untuk bergabung dengan kelompok eksklusif negara pemegang teknologi kapal selam nuklir, yang saat ini hanya dikuasai oleh AS, Rusia, China, Prancis, Inggris, dan India.



