Dhaka – Kepolisian Bangladesh secara resmi mengonfirmasi bahwa dua tersangka utama dalam kasus pembunuhan aktivis mahasiswa terkemuka, Sharif Osman Hadi, telah melarikan diri ke wilayah India. Pernyataan yang dirilis pada Minggu (28/12/2025) ini menambah beban diplomatik pada hubungan kedua negara yang sudah berada di titik terendah.
BACA JUGA : Krisis Diplomatik di Tanduk Afrika: Israel Tuai Kecaman Global Usai Akui Kedaulatan Somaliland
Kronologi Pembunuhan dan Identitas Pelaku
Sharif Osman Hadi, tokoh vokal dalam gerakan pro-demokrasi yang dikenal kritis terhadap kebijakan luar negeri India, menjadi sasaran penembakan oleh kelompok bersenjata bertopeng di Dhaka pada 12 Desember 2025. Hadi sempat dilarikan ke Singapura untuk perawatan medis intensif, namun dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak yang dideritanya.
Perwira Senior Kepolisian Metropolitan Dhaka, SN Nazrul Islam, menyatakan bahwa pembunuhan ini merupakan aksi yang telah direncanakan secara matang. Dua tersangka utama telah diidentifikasi sebagai:
- Faisal Karim Masud
- Alamgir Sheikh
Berdasarkan penyelidikan, keduanya melintasi perbatasan Haluaghat menuju negara bagian Meghalaya, India, sesaat setelah insiden penembakan terjadi.
Dugaan Keterlibatan Warga Lokal India
Kepolisian Bangladesh mengungkapkan adanya indikasi keterlibatan warga lokal di wilayah perbatasan India dalam memfasilitasi pelarian tersebut. Kedua tersangka dilaporkan dijemput oleh dua warga negara India di garis perbatasan sebelum akhirnya diserahkan kepada jaringan kaki tangan di Meghalaya.
“Kami telah menjalin koordinasi dengan Kepolisian Meghalaya. Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa dua warga India yang diduga membantu pelarian tersebut telah ditangkap oleh otoritas setempat,” ujar Nazrul Islam dalam konferensi pers yang dikutip dari AFP. Namun, hingga saat ini, pejabat senior di Meghalaya maupun Kementerian Luar Negeri India belum memberikan konfirmasi resmi mengenai penangkapan tersebut dan cenderung menepis adanya keterlibatan sistematis.
Eskalasi Protes dan Ketidakstabilan Domestik
Kematian Hadi memicu gelombang kerusuhan besar di Bangladesh. Massa yang marah menargetkan simbol-simbol yang dianggap berafiliasi dengan kepentingan India, termasuk kantor media dan pusat kebudayaan. Tekanan publik kini beralih kepada pemerintahan sementara pimpinan Muhammad Yunus untuk segera menyeret pelaku ke pengadilan sebelum pemilihan umum pada Februari 2026.
Krisis ini juga berdampak pada stabilitas internal pemerintahan. Pengunduran diri Khuda Baksh Chowdhury, asisten khusus Menteri Dalam Negeri sementara, pada Rabu (24/12/2025), menunjukkan adanya tekanan politik yang luar biasa di lingkaran dalam pemerintahan transisi.
Konteks Hubungan Bilateral yang Memburuk
Insiden ini memperdalam keretakan hubungan antara Dhaka dan New Delhi yang telah bermula sejak jatuhnya rezim Sheikh Hasina. Beberapa faktor utama yang memperkeruh situasi meliputi:
- Pengasingan Sheikh Hasina: Keberadaan mantan PM Hasina di India dan penolakan New Delhi atas permintaan ekstradisi terkait vonis hukuman mati in absentia.
- Narasi Anti-India: Meningkatnya sentimen nasionalisme di Bangladesh yang memandang India terlalu dalam mencampuri urusan domestik mereka.
- Insiden Kekerasan Perbatasan: Kasus pembunuhan pekerja garmen oleh massa pada pertengahan Desember yang memperparah gesekan di wilayah perbatasan.
Pemerintah India melalui Kementerian Luar Negeri menepis tuduhan keterlibatan dalam kasus Hadi dan menyebutnya sebagai “narasi palsu” yang sengaja diciptakan untuk memicu sentimen anti-India di kawasan tersebut.



