Analisis Global: Evolusi Ancaman ISIS dari Benua Afrika hingga Australia
Internasional

Analisis Global: Evolusi Ancaman ISIS dari Benua Afrika hingga Australia

Washington D.C. & Abuja – Serangkaian peristiwa keamanan dalam kurun waktu dua pekan terakhir di akhir tahun 2025 memicu kekhawatiran global mengenai potensi kembalinya pengaruh kelompok Negara Islam (ISIS). Meskipun basis wilayahnya di Timur Tengah telah runtuh, pola serangan terbaru di Nigeria dan Australia menunjukkan bahwa ideologi kelompok ini masih mampu memicu aksi kekerasan lintas benua.

BACA JUGA : Ketegangan Diplomatik Meningkat: Tersangka Pembunuh Aktivis Bangladesh Terdeteksi di India

1. Operasi Militer di Nigeria Barat Laut

Pada Kamis (25/12/2025), militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara strategis terhadap kamp-kamp yang berafiliasi dengan ISIS di wilayah Nigeria barat laut, dekat perbatasan Niger. Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi serangan tersebut dan menyatakan bahwa operasi ini merupakan langkah krusial dalam memberantas jaringan terorisme di Afrika.

Menteri Luar Negeri Nigeria, Yusuf Maitama Tuggar, menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan “operasi gabungan” yang didasarkan pada pertukaran intelijen antara kedua negara. Operasi ini menargetkan sel-sel yang dinilai bertanggung jawab atas serangkaian pembunuhan kejam di wilayah tersebut. Meskipun dilakukan pada hari Natal, pemerintah Nigeria membantah adanya motif agama dan menegaskan bahwa momentum serangan murni didorong oleh kesiapan taktis dan intelijen.

2. Terorisme Inspirasional di Pantai Bondi, Australia

Kurang dari dua pekan sebelum serangan di Nigeria, Australia diguncang oleh aksi penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, pada 14 Desember 2025. Peristiwa yang menewaskan 15 orang tersebut diduga kuat dimotivasi oleh ideologi ISIS. Di lokasi kejadian, kepolisian menemukan bendera kelompok tersebut serta bahan peledak rakitan.

ISIS, melalui media propagandanya al-Naba, memberikan komentar yang mengindikasikan bahwa meskipun mereka tidak memberikan perintah operasional secara langsung, aksi tersebut merupakan hasil dari pengaruh pesan daring mereka. Hal ini mengonfirmasi pola peralihan ISIS dari koordinasi terpusat menuju strategi pemberdayaan simpatisan lokal atau lone wolves.

3. Evolusi Strategi: Dari Wilayah Fisik ke Digital

Pasca-runtuhnya kekhalifahan di Irak dan Suriah pada 2017 serta kematian Abu Bakr al-Baghdadi pada 2019, kekuatan fisik ISIS menyusut drastis. Namun, para ahli memperingatkan agar tidak menganggap kelompok ini telah hilang sepenuhnya.

Transformasi Pola Serangan:

  • Skala Kecil: Berbeda dengan serangan besar terkoordinasi pada pertengahan 2010-an, ISIS kini lebih mengandalkan taktik tabrak lari dan serangan skala kecil.
  • Radikalisasi Daring: Kelompok ini memanfaatkan media sosial untuk menjangkau demografi muda, memberikan instruksi taktis penggunaan senjata secara anonim.
  • Pasukan Media Sukarela: Sebagian besar propaganda kini dilakukan oleh simpatisan muda yang mahir teknologi, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh divisi media resmi kelompok tersebut yang kini melemah.

4. Pergeseran Episentrum Terorisme ke Afrika Sub-Sahara

Berdasarkan Indeks Terorisme Global 2025, episentrum kekerasan ISIS kini telah berpindah dari Timur Tengah ke Afrika Sub-Sahara. Meskipun ISIS di Provinsi Khorasan (ISKP) di Afghanistan sempat mencuri perhatian lewat serangan di Iran dan Rusia pada awal 2024, efektivitas operasional mereka kini menurun akibat tekanan keamanan di wilayah tersebut.

Sebaliknya, cabang-cabang di Afrika tetap menjadi organisasi teroris paling mematikan dengan catatan 1.805 kematian di 22 negara sepanjang tahun 2024. Afrika dinilai menjadi lahan subur karena instabilitas politik lokal dan luasnya wilayah yang sulit diawasi oleh otoritas negara.

5. Fokus di Asia Selatan dan Asia Tenggara

Di Asia, bayang-bayang ISIS tetap terjaga melalui dua cabang utama:

  • ISKP (Asia Selatan): Berbasis di Afghanistan dan Pakistan, aktif merekrut anggota dari Tajikistan dan Uzbekistan dengan perkiraan kekuatan mencapai 2.000 milisi.
  • ISEAP (Asia Tenggara): Berpusat di Filipina Selatan, kelompok ini masih memiliki sel-sel tidur di Filipina dan Indonesia yang sewaktu-waktu dapat melakukan aksi terorisme domestik.

Kesimpulan: Menghadapi Fase Digital yang Kompleks

Mina al-Lami, analis dari BBC Monitoring, menekankan bahwa ISIS kini memasuki fase yang “lebih sulit dan rumit.” Tanpa pemimpin dengan profil publik yang kuat, kekuatan utama kelompok ini kini terletak pada ideologi yang terdesentralisasi. Strategi penerimaan perintah melalui dunia digital terbukti efektif mengatasi hambatan sumber daya fisik dan rintangan perbatasan negara, menjadikannya ancaman yang tetap relevan bagi keamanan global di masa depan.