Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras terhadap Kuba pasca keberhasilan operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Trump mengisyaratkan bahwa posisi Kuba kini berada dalam titik paling rentan akibat hilangnya mitra strategis utamanya di kawasan Amerika Latin.
BACA JUGA : Ketegangan Geopolitik Amerika Latin: Presiden Kolombia Siap Angkat Senjata Merespons Ancaman Donald Trump
Dampak Operasi Militer terhadap Hubungan Kuba-Venezuela
Keberhasilan “Operasi Absolute Resolve” di Venezuela memberikan pukulan telak bagi Havana. Laporan menunjukkan adanya korban jiwa dari pihak pasukan Kuba yang berada di Venezuela saat operasi berlangsung. Sebagai respons, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menetapkan tanggal 5 dan 6 Januari 2026 sebagai hari berkabung nasional.
Secara ekonomi, ketergantungan Kuba terhadap Venezuela sangat dalam:
- Energi: Selama 25 tahun, Venezuela menjadi pemasok utama minyak bagi Kuba untuk kebutuhan domestik dan ekspor kembali.
- Pendapatan: Dengan runtuhnya rezim Maduro, jalur pasokan minyak dan bantuan finansial yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Kuba resmi terputus.
Pernyataan Donald Trump dan Lindsey Graham
Berbicara di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Donald Trump menyatakan bahwa hari-hari pemerintahan komunis di Kuba sudah “dihitung”. Trump menilai bahwa tanpa aliran dana dan energi dari Venezuela, Kuba tidak akan mampu bertahan lama secara ekonomi.
“Kuba tampaknya siap untuk jatuh. Mereka sekarang tidak memiliki pendapatan karena selama ini semuanya bergantung pada minyak Venezuela,” tegas Trump. Meski demikian, ia mengisyaratkan lebih memilih menunggu keruntuhan ekonomi Kuba secara alami daripada melakukan intervensi militer langsung.
Senada dengan Trump, Senator Lindsey Graham mengecam rekam jejak HAM pemerintah Kuba. Ia mendesak adanya perubahan kepemimpinan agar Kuba dapat beralih menjadi mitra bisnis Amerika Serikat, alih-alih terus dipimpin oleh apa yang ia sebut sebagai kediktatoran komunis.
Dilema Eksistensial dan Krisis Domestik
Hilangnya dukungan dari Venezuela menempatkan Kuba pada ambang krisis nasional. Blokade Amerika Serikat yang sebelumnya menargetkan sektor energi Venezuela kini secara otomatis mematikan akses Kuba terhadap mata uang asing yang dibutuhkan untuk membeli kebutuhan pokok seperti obat-obatan dan pangan.
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, menyebut situasi ini sebagai “dilema eksistensial” dalam pertemuan darurat Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC). Ia menegaskan bahwa jatuhnya Maduro mengancam kelangsungan hidup Kuba sebagai negara merdeka dan berdaulat.
Analisis: Akhir dari Era Poros Sosialis Karibia
Kemitraan Kuba-Venezuela yang dimulai sejak era Fidel Castro dan Hugo Chavez pada tahun 1999 kini berada di titik nadir. Kerja sama “minyak untuk tenaga ahli” (di mana Kuba mengirimkan dokter dan instruktur militer ke Venezuela sebagai imbalan minyak) telah berakhir secara mendadak.
Situasi di Havana saat ini diprediksi akan mengalami ketidakstabilan sosial yang tinggi. Jika pemerintah Kuba tidak segera menemukan mitra ekonomi baru atau melakukan reformasi politik besar-besaran, tekanan ekonomi akibat isolasi AS kemungkinan besar akan memicu gelombang protes domestik yang meluas.


