Gembong Sindikat Scam Kamboja, Chen Zhi, Diekstradisi ke China: Terancam Hukuman 40 Tahun Penjara
Internasional

Gembong Sindikat Scam Kamboja, Chen Zhi, Diekstradisi ke China: Terancam Hukuman 40 Tahun Penjara

Otoritas Tiongkok secara resmi telah menerima ekstradisi Chen Zhi, sosok yang diduga kuat sebagai pemimpin tertinggi jaringan penipuan siber lintas negara. Kedatangannya di Bandara Internasional Beijing menandai babak baru dalam upaya pembongkaran salah satu sindikat kriminal finansial terbesar di Asia Tenggara yang dituduh merugikan korban hingga miliaran dolar AS.

Momen kepulangan Chen Zhi disiarkan secara luas oleh stasiun televisi pemerintah, CCTV. Dalam tayangan tersebut, Chen tampak digiring turun dari pesawat oleh pasukan elit SWAT dengan pengawalan ketat, tangan terborgol, dan kepala tertutup. CCTV melabeli Chen sebagai figur utama di balik imperium kejahatan perjudian dan penipuan transnasional.

BACA JUGA : Antisipasi Operasi Militer AS: Korea Utara Perkuat Pertahanan Nuklir Pasca-Penangkapan Maduro

Profil Chen Zhi dan Kedok Prince Group

Chen Zhi merupakan pendiri Prince Group, sebuah konglomerat raksasa yang berbasis di Kamboja. Meski secara publik dikenal sebagai grup bisnis beragam sektor, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa perusahaan tersebut digunakan sebagai tameng untuk menjalankan operasi kejahatan finansial global.

Beberapa poin krusial terkait rekam jejak kriminal Chen Zhi meliputi:

  • Sanksi Internasional: Sejak Oktober 2025, AS dan Inggris telah menjatuhkan sanksi berat terhadap Chen Zhi atas tuduhan memimpin jaringan online scam yang mempekerjakan ratusan orang di bawah tekanan.
  • Metode Pig Butchering: Jaringan ini dikenal menggunakan metode penipuan “pig butchering” (pemotongan babi), di mana pelaku membangun hubungan emosional atau romantis dengan korban dalam jangka panjang sebelum akhirnya menguras seluruh dana mereka.
  • Koneksi Politik: Chen Zhi sebelumnya memiliki pengaruh besar di Kamboja, sempat menjabat sebagai penasihat bagi Perdana Menteri Hun Manet serta mantan pemimpin Hun Sen. Namun, seiring meningkatnya tekanan internasional, Pemerintah Kamboja mencabut kewarganegaraannya pada Desember 2025.

Perbudakan Modern dan TPPO

Ekstradisi ini dianggap sebagai langkah paling signifikan dalam memberantas “pusat penipuan” di Asia Tenggara. Kompleks-kompleks penipuan ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga menjadi pusat praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Puluhan ribu orang dari berbagai negara, termasuk Indonesia, seringkali dijebak dengan janji pekerjaan palsu, untuk kemudian disekap dan dipaksa bekerja sebagai operator penipuan di bawah ancaman kekerasan.

Kerja Sama Penegakan Hukum China-Kamboja

Penangkapan Chen Zhi pada Rabu (7/1/2026) malam merupakan hasil dari penyelidikan intelijen lintas negara yang berlangsung selama berbulan-bulan. Kementerian Keamanan Publik China menegaskan bahwa Chen adalah target utama mereka dan segera diikuti oleh penangkapan anggota kunci lainnya dalam grup kriminal tersebut.

Meskipun dakwaan resmi belum dirinci secara publik oleh Beijing, para ahli hukum internasional memprediksi Chen Zhi akan menghadapi tuntutan berlapis mulai dari pencucian uang, penipuan siber, hingga pengorganisiran perjudian ilegal. Mengingat skala kerugian dan dampak sosialnya, ia terancam hukuman maksimal hingga 40 tahun penjara.

“Pencapaian ini merupakan hasil besar dari kerja sama penegakan hukum antara China dan Kamboja yang solid,” ungkap pernyataan resmi Kementerian Keamanan Publik China.