Diplomasi Energi Donald Trump: Ambisi Investasi Rp 1.600 Triliun di Venezuela Disambut Skeptisisme Industri
Internasional

Diplomasi Energi Donald Trump: Ambisi Investasi Rp 1.600 Triliun di Venezuela Disambut Skeptisisme Industri

WASHINGTON D.C. – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melakukan langkah diplomasi energi yang agresif dengan mendorong perusahaan-perusahaan minyak besar (oil majors) AS untuk menanamkan modal di Venezuela. Namun, ajakan tersebut mendapatkan respons dingin dari para pelaku industri yang masih dibayangi trauma masa lalu terkait stabilitas politik dan keamanan aset di negara Amerika Latin tersebut.

BACA JUGA : Amerika Serikat Menarik Diri dari 66 Organisasi Internasional: Landasan Kebijakan dan Dampak Global

Ambisi Investasi dan Pengaruh Geopolitik

Dalam pertemuan strategis di Gedung Putih pada Jumat (9/1/2026), Presiden Trump secara eksplisit meminta industri minyak menggelontorkan investasi sedikitnya 100 miliar dollar AS atau setara dengan kurang lebih Rp 1.680 triliun. Target utamanya adalah membangkitkan kembali kapasitas produksi cadangan energi raksasa Venezuela yang selama bertahun-tahun mengalami degradasi akibat krisis domestik dan sanksi internasional.

Trump menekankan bahwa mekanisme investasi ini akan berada di bawah kendali penuh pemerintahannya. “Anda berurusan langsung dengan kami. Anda sama sekali tidak berurusan dengan Venezuela. Kami tidak mau Anda berurusan dengan Venezuela,” tegas Trump di depan para petinggi energi.

Penolakan dari Raksasa Energi

Meskipun ditawarkan jaminan dari Gedung Putih, para pemimpin industri tetap menunjukkan sikap skeptis. CEO ExxonMobil, Darren Woods, memberikan pernyataan tegas mengenai risiko investasi di negara tersebut. Ia merujuk pada sejarah kelam di mana aset-aset perusahaan multinasional pernah disita paksa oleh pemerintah setempat di masa lalu.

“Aset kami telah disita di sana sebanyak dua kali. Memasuki wilayah yang sama untuk ketiga kalinya memerlukan perubahan signifikan dari perspektif historis maupun kondisi saat ini. Untuk sekarang, Venezuela belum layak menjadi destinasi investasi,” ungkap Woods.

Hingga saat ini, Chevron merupakan satu-satunya raksasa minyak asal AS yang masih mempertahankan operasional terbatas di Venezuela. Sementara itu, perusahaan Eropa seperti Repsol (Spanyol) dan Eni (Italia) masih aktif beroperasi dan ikut menghadiri pertemuan di Washington tersebut.

Kendali Finansial dan Pencabutan Sanksi Selektif

Strategi yang ditawarkan pemerintahan Trump melibatkan skema pencabutan sanksi secara selektif. Namun, terdapat persyaratan ketat yang menyertainya:

  • Kontrol Jalur Penjualan: Amerika Serikat berencana memegang kendali penuh atas jalur distribusi minyak mentah Venezuela ke pasar internasional.
  • Pengelolaan Dana: Hasil penjualan minyak tidak akan langsung masuk ke kas pemerintah Venezuela di bawah kepemimpinan Delcy Rodríguez, melainkan ditempatkan di rekening khusus yang dikendalikan oleh Departemen Keuangan AS.
  • Tekanan Fisik: Dalam beberapa hari terakhir, dilaporkan adanya penyitaan sejumlah kapal tanker yang membawa minyak mentah Venezuela sebagai bentuk penegasan pengaruh AS atas arus komoditas tersebut.

Langkah ini dilihat sebagai upaya Washington untuk memanfaatkan kekayaan alam Venezuela demi kepentingan energi global, sekaligus memastikan pemerintahan Rodríguez tetap berada dalam jangkauan kendali politik Amerika Serikat. Tantangan terbesarnya kini adalah meyakinkan sektor swasta bahwa jaminan dari Gedung Putih cukup kuat untuk melindungi modal mereka dari risiko nasionalisasi di masa depan.