DAMASKUS – Pasukan militer Amerika Serikat bersama sekutu regional meluncurkan serangan udara skala besar yang menargetkan posisi kelompok militan ISIS di seluruh wilayah Suriah pada Sabtu (10/1/2026). Operasi yang diberi sandi Hawkeye Strike ini merupakan respons langsung atas insiden mematikan di Palmyra bulan lalu yang merenggut nyawa personel Amerika.
BACA JUGA : Diplomasi Energi Donald Trump: Ambisi Investasi Rp 1.600 Triliun di Venezuela Disambut Skeptisisme Industri
Eskalasi sebagai Balasan atas Insiden Palmyra
Komando Pusat AS (Centcom) dalam keterangannya mengonfirmasi bahwa serangan ini adalah balasan atas peristiwa yang terjadi pada 13 Desember 2025. Saat itu, seorang simpatisan ISIS melakukan serangan tunggal di Palmyra yang menewaskan dua tentara Amerika Serikat dan seorang penerjemah sipil.
“Pesan kami tegas: jika Anda melukai prajurit kami, kami akan menemukan dan menindak Anda di mana pun di dunia, sekeras apa pun upaya Anda menghindari keadilan,” tulis pernyataan resmi Centcom sebagaimana dikutip dari AFP. Operasi ini bertujuan untuk melumpuhkan sel-sel terorisme sekaligus memastikan keselamatan personel militer AS dan pasukan mitra yang masih bertugas di kawasan tersebut.
Kekuatan Udara dan Detail Operasi
Serangan pada Sabtu malam tersebut melibatkan koordinasi udara yang masif. Sedikitnya 20 jet tempur dikerahkan untuk membombardir lebih dari 35 target strategis dengan menggunakan lebih dari 90 amunisi presisi. Alutsista yang terlibat dalam operasi gabungan ini meliputi:
- Jet Tempur: F-15E Strike Eagle dan F-16 milik Angkatan Udara Yordania.
- Pesawat Serbu & Pendukung: A-10 Thunderbolt II, AC-130J Ghostrider, dan drone MQ-9 Reaper.
Hingga saat ini, pihak militer belum merilis detail lokasi spesifik maupun estimasi jumlah korban jiwa dari pihak militan. Namun, serangan ini menandai peningkatan intensitas serangan udara AS di Suriah sejak pergantian peta politik pasca-runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Konteks Geopolitik dan Kehadiran Pasukan AS
Meskipun ISIS secara teritorial telah dinyatakan kalah pada tahun 2019, sisa-sisa kekuatan mereka dilaporkan masih bergerilya di wilayah gurun Suriah yang terpencil. Pasukan AS yang berada di sana saat ini tergabung dalam Operation Inherent Resolve, sebuah misi internasional untuk mencegah kebangkitan kembali kelompok radikal tersebut.
Di sisi lain, kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump terus menunjukkan dinamika pengurangan keterlibatan militer secara fisik di Suriah:
- April 2025: Departemen Pertahanan AS mengumumkan rencana pengurangan jumlah pasukan hingga 50 persen.
- Juni 2025: Utusan Khusus AS, Tom Barrack, menyatakan bahwa Washington akan memangkas jumlah pangkalan militer dan hanya akan mempertahankan satu pangkalan strategis dalam jangka pendek.
Operasi Hawkeye Strike menunjukkan bahwa meskipun AS sedang dalam proses pengurangan pasukan, mereka tetap mempertahankan kapabilitas serangan udara yang ofensif untuk membalas setiap ancaman terhadap personel mereka di Timur Tengah.



