Ambisi Geopolitik Donald Trump di Arktik: Greenland dalam Pusaran Rivalitas Kekuatan Besar
Internasional

Ambisi Geopolitik Donald Trump di Arktik: Greenland dalam Pusaran Rivalitas Kekuatan Besar

WASHINGTON D.C. – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan diplomatik internasional melalui pernyataan tajam mengenai ambisinya terhadap Greenland. Trump menilai sistem pertahanan wilayah otonom milik Denmark tersebut sangat rentan dan menyamakan kekuatannya hanya setara dengan “kereta luncur anjing” di tengah ancaman modern dari Rusia dan China.

BACA JUGA : Operasi Hawkeye Strike: Pasukan Koalisi AS Gempur 35 Target ISIS di Suriah

Urgensi Keamanan Nasional dan Kritik terhadap Pertahanan Lokal

Dalam keterangannya yang dikutip dari AFP pada Senin (12/1/2026), Trump menyoroti ketimpangan militer yang terjadi di kawasan Arktik. Ia membandingkan keterbatasan fasilitas pertahanan Greenland dengan masifnya kehadiran militer dari kekuatan pesaing global.

“Anda tahu apa pertahanan mereka? Dua kereta luncur anjing. Sementara Rusia dan China memiliki kapal perusak dan kapal selam di mana-mana,” ujar Trump. Bagi Washington, Greenland bukan sekadar wilayah es, melainkan aset strategis untuk membendung ekspansi militer di kutub utara. Trump menegaskan bahwa intervensi Amerika Serikat adalah langkah preventif guna mencegah Greenland jatuh ke tangan pengaruh Moskow atau Beijing.


Strategi “Kesepakatan” dan Risiko Terhadap Aliansi NATO

Trump mendesak agar Greenland segera menyepakati aliansi atau kesepakatan khusus dengan AS demi menghindari penguasaan oleh pihak lain. Namun, ambisi ini memicu gesekan serius dalam hubungan transatlantik. Perdana Menteri Denmark sebelumnya telah memperingatkan bahwa upaya AS untuk mengambil kendali atas Greenland secara sepihak dapat merusak hubungan keamanan yang telah terbina selama delapan dekade.

Menanggapi hal tersebut, Trump menunjukkan sikap tidak kompromi, bahkan jika hal itu berdampak pada organisasi pakta pertahanan NATO. Menurutnya, ketergantungan Greenland terhadap AS jauh lebih besar dibandingkan kepentingan AS terhadap wilayah tersebut secara timbal balik.

Perlawanan dari Internal Greenland: Kedaulatan vs Kolonialisme

Ambisi Amerika Serikat mendapatkan perlawanan sengit dari parlemen dan masyarakat sipil di Greenland. Terdapat tiga poin utama penolakan yang muncul dari wilayah tersebut:

  1. Sikap Politik Parlemen: Pemimpin dari lima partai di parlemen Greenland mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan hak penentuan nasib sendiri (self-determination). Mereka menolak menjadi bagian dari entitas politik Amerika Serikat maupun tetap berada di bawah bayang-bayang Denmark tanpa kemandirian penuh.
  2. Trauma Sejarah: Masyarakat di ibu kota Nuuk menyuarakan kekhawatiran akan kembalinya status koloni. Warga lokal merasa bahwa intervensi AS hanya akan mengulangi sejarah penjajahan yang telah lama mereka perjuangkan untuk ditinggalkan.
  3. Krisis Kepercayaan: Manuver Washington dianggap merusak stabilitas diplomatik dan rasa saling percaya yang selama ini terjalin antara Nuuk dan Kopenhagen.

Signifikansi Geopolitik Greenland

Ketertarikan AS terhadap Greenland didorong oleh beberapa faktor krusial yang terus berkembang:

  • Pencairan Es Arktik: Membuka jalur pelayaran baru yang lebih cepat antara Samudra Atlantik dan Pasifik.
  • Kekayaan Sumber Daya: Kandungan mineral langka (rare earth metals) yang melimpah dan sangat penting bagi industri teknologi serta militer.
  • Posisi Radar Strategis: Keberadaan Pangkalan Udara Thule (sekarang Pituffik Space Base) milik AS yang merupakan bagian vital dari sistem peringatan dini serangan rudal balistik.