Pasca-serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 yang menewaskan Ali Khamenei, kondisi kesehatan penerusnya, Mojtaba Khamenei, kini menjadi sorotan dunia. Laporan terbaru yang dirilis oleh The New York Times pada Kamis (23/4/2026) mengungkapkan bahwa Mojtaba mengalami cedera fisik yang sangat serius, yang berdampak langsung pada struktur kepemimpinan di Teheran.
Berdasarkan informasi dari sejumlah pejabat internal Iran, berikut adalah rincian kondisi kesehatan dan dinamika politik terbaru di negara tersebut:
BACA JUGA : Krisis Diplomasi Washington-Teheran: Negosiasi Menemui Jalan Buntu di Ambang Berakhirnya Gencatan Senjata
Kondisi Medis dan Pemulihan Fisik
Mojtaba Khamenei dilaporkan menderita luka parah pada beberapa bagian tubuh utamanya akibat ledakan dalam serangan tersebut. Proses pemulihannya diperkirakan akan memakan waktu lama dan melibatkan serangkaian prosedur medis yang kompleks:
- Ekstremitas Bawah: Salah satu kakinya telah menjalani tiga kali prosedur operasi. Saat ini, ia dikabarkan sedang menunggu pemasangan kaki palsu (protesis) untuk dapat kembali beraktivitas secara fisik.
- Fungsi Tangan: Selain kaki, salah satu tangannya juga menjadi sasaran tindakan bedah. Laporan menyebutkan bahwa fungsi motorik tangan tersebut perlahan mulai pulih melalui proses rehabilitasi.
- Luka Wajah dan Rekonstruksi: Area wajah dan bibir mengalami luka bakar yang parah, yang mengakibatkan kesulitan komunikasi verbal secara langsung. Untuk memulihkan penampilannya, ia dijadwalkan akan menjalani operasi plastik rekonstruktif dalam waktu dekat.
Meskipun menderita cedera fisik yang hebat, para pejabat menegaskan bahwa kondisi mental Mojtaba tetap tajam dan ia masih memiliki kesadaran penuh dalam memantau urusan kenegaraan.
Pengalihan Kekuasaan Sementara ke Garda Revolusi
Keterbatasan fisik Mojtaba memaksa terjadinya pergeseran dalam mekanisme pengambilan keputusan di Iran. Untuk sementara waktu, ia telah mendelegasikan otoritas eksekutif dan strategis kepada para jenderal di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Sebagai kekuatan militer ideologis paling berpengaruh, IRGC kini memegang kendali penuh atas strategi pertahanan dan keamanan nasional. Langkah-langkah strategis yang diambil di bawah kendali para jenderal ini meliputi:
- Blokade Selat Hormuz: Penguatan kontrol di jalur logistik energi global sebagai respons terhadap tekanan Barat.
- Manajemen Konflik: Memposisikan konfrontasi dengan AS dan Israel sebagai upaya mempertahankan kelangsungan rezim.
- Protokol Keamanan Ketat: Akses terhadap Mojtaba dibatasi secara ekstrem. Komunikasi dilakukan melalui pesan tulisan tangan guna menghindari penyadapan elektronik dan memastikan keamanan lokasi persembunyiannya.
Peran Medis Presiden Pezeshkian
Menariknya, proses perawatan medis Mojtaba melibatkan tokoh penting dalam pemerintahan. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang memiliki latar belakang sebagai ahli bedah jantung senior, dilaporkan terlibat langsung dalam memantau dan mengarahkan perawatan medis bagi sang Pemimpin Tertinggi.
Keterlibatan Pezeshkian menunjukkan betapa krusialnya upaya pemulihan Mojtaba bagi stabilitas internal Iran. Di sisi lain, para komandan Garda Revolusi memilih untuk tidak menjenguk secara langsung guna menjaga kerahasiaan lokasi dan mematuhi protokol keamanan yang ketat selama masa transisi yang rentan ini.


