DAMASKUS – Stabilitas pemerintahan transisi Suriah berada dalam ancaman serius setelah laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap adanya serangkaian plot pembunuhan terhadap pejabat tinggi negara. Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, dilaporkan telah menjadi target lima percobaan pembunuhan oleh kelompok ISIS sepanjang tahun lalu yang berhasil digagalkan.
BACA JUGA : Operasi Masif Kamboja: 200 Pusat Penipuan Online Ditutup dan 11.000 Pekerja Dideportasi
Plot Pembunuhan Pejabat Tinggi Negara
Laporan yang dirilis oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada Rabu (11/2/2026) menyebutkan bahwa ancaman pembunuhan tidak hanya menyasar Presiden al-Sharaa, tetapi juga anggota kabinet utamanya, yakni Menteri Dalam Negeri Anas Hasan Khattab dan Menteri Luar Negeri Asaad al-Shibani.
Investigasi Kantor Kontra-Terorisme PBB menunjukkan bahwa upaya pembunuhan terhadap al-Sharaa terkonsentrasi di wilayah Aleppo Utara—provinsi terpadat di Suriah—serta Daraa di bagian selatan. Operasi tersebut diduga dijalankan oleh Saraya Ansar al-Sunnah, sebuah kelompok yang diidentifikasi oleh intelijen internasional sebagai front operasional ISIS di lapangan.
Eksploitasi Kekosongan Keamanan oleh ISIS
Para pakar kontra-terorisme PBB memperingatkan bahwa ISIS secara aktif memanfaatkan ketidakpastian politik dan kekosongan keamanan pasca-runtuhnya rezim Bashar al-Assad. Saat ini, ISIS diperkirakan masih memiliki kekuatan sekitar 3.000 pejuang yang tersebar di wilayah Irak dan Suriah, dengan konsentrasi terbesar berada di Suriah.
Kelompok ekstremis ini tetap melakukan serangan gerilya, terutama menargetkan pasukan keamanan di wilayah utara dan timur laut. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa meskipun kekhilafahan fisik telah runtuh, sel-sel tidur ISIS tetap memiliki kapabilitas untuk melakukan serangan kinetik terhadap simbol-simbol pemerintahan baru.
Pengambilalihan Pangkalan Strategis Al-Tanf
Di tengah ancaman teror, pemerintah transisi Suriah mencatat kemajuan signifikan dalam penguasaan wilayah kedaulatan. Kementerian Pertahanan Suriah mengumumkan telah resmi mengambil alih pangkalan militer al-Tanf di timur negara itu, yang berbatasan langsung dengan Yordania dan Irak.
Pangkalan ini memiliki nilai strategis tinggi karena:
- Sejarah Operasional: Selama bertahun-tahun dikelola oleh pasukan Amerika Serikat sebagai pusat operasi kontra-ISIS.
- Geopolitik: Berada di titik temu perbatasan tiga negara yang krusial bagi stabilitas regional.
- Deterensi: Penyerahan pangkalan oleh pihak AS (sebagaimana dikonfirmasi oleh pejabat di Washington) menandakan pengakuan de facto terhadap kontrol keamanan pemerintahan al-Sharaa di wilayah timur.
Konsolidasi Kekuasaan Ahmed al-Sharaa
Ahmed al-Sharaa, yang sebelumnya memimpin faksi militan sebelum bertransformasi menjadi pemimpin politik transisi, terus memperkuat posisi pemerintahannya. Upaya konsolidasi ini mencakup:
- Ekspansi Wilayah: Perebutan wilayah luas di timur laut pasca-bentrokan dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang berujung pada kesepakatan gencatan senjata.
- Legitimasi Internasional: Bergabungnya Suriah ke dalam koalisi internasional melawan ISIS pada November lalu.
- Reformasi Keamanan: Penataan ulang militer untuk menghadapi ancaman siber dan gerilya dari kelompok teroris.
Langkah-langkah ini menunjukkan upaya serius pemerintah sementara untuk beralih dari faksi pemberontak menjadi otoritas nasional yang bertanggung jawab atas keamanan publik, meskipun dibayangi oleh sejarah masa lalu kepemimpinan al-Sharaa di kelompok Hayat Tahrir al-Sham.


