Sebanyak 40 negara secara resmi mulai mengonsolidasikan kekuatan dalam sebuah koalisi internasional untuk mencari solusi atas pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran. Langkah kolektif ini muncul sebagai respons darurat terhadap lonjakan harga energi global dan ancaman resesi ekonomi dunia akibat lumpuhnya jalur distribusi minyak paling vital di planet ini.
Menariknya, inisiatif ini dibentuk tanpa keterlibatan Amerika Serikat. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang menegaskan bahwa negara-negara lain harus memikul tanggung jawab secara mandiri dalam mengamankan jalur perdagangan internasional mereka masing-masing.
Pembentukan Aliansi Strategis Non-AS
Pertemuan perdana koalisi ini dilakukan secara virtual pada Kamis, 2 April 2026, dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper. Forum tersebut mempertemukan perwakilan tingkat tinggi dari negara-negara berpengaruh, di antaranya:
- Eropa: Prancis, Jerman, dan Inggris.
- Amerika Utara: Kanada.
- Timur Tengah: Uni Emirat Arab.
- Asia: India.
Menteri Yvette Cooper menegaskan bahwa tindakan Iran yang memblokade jalur pelayaran internasional merupakan upaya menyandera ekonomi global. “Tindakan ceroboh Iran dalam menutup selat ini berdampak langsung pada rumah tangga dan stabilitas bisnis di setiap penjuru dunia,” ujar Cooper sebagaimana dilansir oleh Reuters.
Tiga Pilar Strategi: Diplomasi, Sanksi, dan Opsi Militer
Koalisi ini menyepakati pendekatan bertahap untuk menekan Teheran agar segera membuka kembali akses maritim di Selat Hormuz. Tiga instrumen utama yang dibahas meliputi:
- Tekanan Diplomasi: Mobilisasi opini internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengisolasi posisi politik Iran.
- Sanksi Ekonomi Terukur: Penerapan sanksi ekonomi tambahan yang ditargetkan secara spesifik untuk melemahkan kemampuan logistik militer Iran di wilayah pesisir.
- Opsi Operasi Militer: Pembahasan mengenai langkah teknis seperti pembersihan ranjau laut (minesweeping) dan pengawalan bersenjata bagi kapal komersial. Namun, opsi ini diposisikan sebagai langkah kontinjensi yang baru akan diimplementasikan setelah intensitas konflik bersenjata mereda.
Tantangan Koordinasi dan Kapabilitas Tempur
Juru bicara militer Prancis, Guillaume Vernet, menyoroti kompleksitas operasi ini. Menurutnya, membuka kembali jalur yang dipenuhi ranjau dan ancaman rudal pantai membutuhkan koordinasi intelijen tingkat tinggi serta pengerahan armada laut yang masif.
“Kami memerlukan jumlah kapal yang signifikan serta kemampuan koordinasi integratif di udara dan laut. Berbagi intelijen antarnegara anggota akan menjadi kunci keberhasilan operasi ini,” jelas Vernet. Meskipun visi besar telah terbentuk, pertemuan awal ini belum menghasilkan kesepakatan konkret mengenai jadwal pengerahan armada tempur ke lokasi konflik.
Pergeseran Geopolitik: Dunia Tanpa Polisi Amerika
Absennya Amerika Serikat dalam koalisi ini menandai pergeseran signifikan dalam tatanan keamanan maritim global. Kebijakan isolasionis rezim Trump memaksa negara-negara konsumen minyak besar, seperti India dan negara-negara Eropa, untuk membangun arsitektur keamanan mereka sendiri tanpa bergantung pada payung perlindungan AS.
Keberhasilan koalisi ini dalam membuka Selat Hormuz akan menjadi ujian krusial bagi efektivitas kerja sama multilateral di era pasca-hegemoni Amerika. Dunia kini menanti apakah kekuatan gabungan 40 negara ini mampu meredam ketegangan di Teluk Persia tanpa memicu konfrontasi skala penuh yang lebih luas.


