Eskalasi di Baltik: Rusia Ancam Gunakan Kekuatan Militer untuk Menghancurkan Blokade Laut Barat
Internasional

Eskalasi di Baltik: Rusia Ancam Gunakan Kekuatan Militer untuk Menghancurkan Blokade Laut Barat

MOSKWA – Ketegangan antara Federasi Rusia dan aliansi militer NATO mencapai titik didih baru setelah Pemerintah Rusia mengeluarkan peringatan keras terkait keamanan jalur maritim mereka. Asisten Presiden Rusia sekaligus Ketua Dewan Maritim, Nikolay Patrushev, menyatakan bahwa Moskwa tidak akan ragu menggunakan kekuatan senjata untuk mendobrak setiap upaya blokade laut yang dilakukan oleh negara-negara Barat.

Dalam wawancara strategis dengan surat kabar Argumenty i Fakty pada Rabu, 18 Februari 2026, Patrushev menegaskan bahwa Angkatan Laut Rusia telah diinstruksikan untuk menggagalkan segala bentuk pengepungan guna menjamin kelancaran arus perdagangan luar negeri.

BACA JUGA : Eskalasi di Timur Tengah: Posisi USS Abraham Lincoln Terdeteksi 700 Km dari Perbatasan Iran

1. Tuduhan Terhadap NATO dan Situasi Kaliningrad

Patrushev menyoroti peningkatan aktivitas militer NATO di kawasan Laut Baltik. Ia menuduh aliansi tersebut tengah membentuk kelompok tugas multinasional yang dirancang untuk melakukan tindakan ofensif terhadap kedaulatan maritim Rusia.

Titik fokus ketegangan ini berada pada wilayah Kaliningrad, eksklave Rusia yang terletak di antara Polandia dan Lituania. Menurut Patrushev, terdapat indikasi kuat bahwa NATO berencana melakukan blokade total terhadap wilayah tersebut serta melakukan penyitaan terhadap kapal-kapal dagang Rusia.

“Jika situasi ini tidak dapat diselesaikan melalui jalur damai, hukum internasional, maupun diplomatik, maka blokade tersebut akan didobrak dan dieliminasi secara total oleh angkatan laut kami,” tegas Patrushev dalam keterangannya yang dilansir oleh Anadolu Agency.


2. Kritik Terhadap Penahanan Kapal Tanker dan Ancaman Balasan

Rusia melabeli rangkaian penahanan kapal tanker minyak mereka baru-baru ini sebagai tindakan kriminal yang tidak berdasar. Patrushev menyamakan tindakan pencegatan yang dilakukan otoritas Barat sebagai serangan bajak laut modern.

Sebagai bentuk tekanan balik, Patrushev melontarkan peringatan kepada negara-negara Eropa bahwa kapal-kapal yang berbendera Eropa kini berada dalam radar pengawasan Rusia. Ia memberikan sinyal bahwa Rusia mungkin akan mulai melakukan pemeriksaan ketat terhadap manifes kargo dan tujuan pelayaran kapal-kapal Eropa sebagai langkah resiprokal.


3. Kronologi Insiden dan Armada Bayangan

Keresahan Rusia dipicu oleh rentetan insiden fisik yang terjadi sejak akhir tahun 2025 hingga awal 2026:

  • Pencegatan di Mediterania: Pada 22 Januari 2026, Angkatan Laut Prancis mencegat dan menahan kapal tanker Grinch di Mediterania Barat. Otoritas Prancis menuduh kapal tersebut merupakan bagian dari “armada bayangan” (shadow fleet) yang digunakan untuk menghindari sanksi minyak internasional.
  • Serangan Drone di Laut Hitam: Ukraina dilaporkan semakin intensif mengerahkan drone laut Sea Baby. Beberapa kapal kargo dan tanker seperti Kairos, Virat, Dashan, dan Elbus tercatat mengalami kerusakan akibat serangan di Laut Hitam.
  • Insiden Kapal Qendil: Kapal Qendil menjadi target serangan di Laut Mediterania pada Desember lalu, menunjukkan bahwa zona konflik kini telah meluas melintasi batas tradisional Laut Hitam.

Analisis Dampak Keamanan Maritim

Pernyataan Patrushev ini menandakan pergeseran doktrin Rusia menuju postur yang lebih agresif di wilayah perairan internasional. Dengan pengerahan kapal perang untuk mengawal armada dagang, risiko konfrontasi fisik langsung antara kapal perang Rusia dan aset AL negara-negara NATO di Laut Baltik maupun Mediterania kini berada pada level yang sangat tinggi.

Dunia internasional kini menaruh perhatian besar pada bagaimana negara-negara Barat merespons ancaman ini, mengingat Laut Baltik merupakan jalur nadi ekonomi utama bagi banyak negara anggota Uni Eropa.