Ketegangan diplomatik dan militer antara dua kekuatan besar Teluk, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), mencapai titik didih baru pada awal tahun 2026. Koalisi militer pimpinan Riyadh melancarkan tujuh rangkaian serangan udara yang menyasar posisi pasukan Dewan Transisi Selatan (STC)—kelompok separatis yang didukung oleh Abu Dhabi—di wilayah Yaman Selatan, Jumat (2/1/2026).
BACA JUGA : Transformasi Kebersihan Publik: Kuala Lumpur Terapkan Denda Maksimal dan Sanksi Sosial Mulai 2026
Kronologi dan Dampak Serangan
Serangan udara tersebut terkonsentrasi di wilayah strategis Hadhramaut. Mohammed Abdulmalik, Ketua STC untuk wilayah Wadi dan Gurun Hadhramaut, mengonfirmasi bahwa kamp militer Al Khasah menjadi target utama.
Data korban dan dampak material:
- Korban Jiwa: Tujuh prajurit STC dinyatakan tewas di lokasi.
- Korban Luka: Lebih dari 20 orang mengalami luka-luka akibat hantaman proyektil.
- Kerusakan Infrastruktur: Sejumlah fasilitas militer di wilayah kamp dilaporkan hancur total.
Insiden ini menandai jatuhnya korban jiwa pertama akibat konfrontasi langsung antar anggota koalisi sejak STC melakukan ekspansi militer besar-besaran di Provinsi Hadhramaut dan Mahra pada akhir tahun 2025.
Perebutan Pengaruh di Wilayah Strategis
Hadhramaut dan Mahra merupakan wilayah yang memiliki nilai geopolitik tinggi karena berbatasan langsung dengan wilayah daratan Arab Saudi. Langkah STC yang merebut mayoritas kendali di kedua provinsi tersebut dianggap sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas zona penyangga yang diinginkan oleh Riyadh.
Gubernur Hadhramaut, Salem Al Khanbashi, yang berafiliasi dengan pasukan pro-Saudi, berdalih bahwa operasi darat sebelumnya hanya bertujuan untuk mengambil alih situs militer secara damai dan sistematis. Namun, klaim tersebut kontradiktif dengan eskalasi serangan udara yang terjadi kemudian.
Pernyataan Kontradiktif Kedua Belah Pihak:
- Pihak Pro-Saudi: Menyatakan serangan dilakukan untuk memaksa STC menarik diri sepenuhnya dari Hadhramaut dan Mahra demi mengembalikan otoritas pemerintah yang diakui secara internasional.
- Pihak STC: Melalui Amr Al Bidh (Perwakilan Urusan Luar Negeri), menuduh Arab Saudi telah menyesatkan komunitas internasional dengan kedok “operasi damai” padahal melakukan agresi militer terbuka terhadap sekutunya sendiri.
Keretakan Aliansi Teluk: Saudi vs UEA
Meskipun Arab Saudi dan UEA secara resmi tergabung dalam koalisi yang sama sejak 2015 untuk melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran, kedua negara ini memiliki visi yang berbeda terkait masa depan Yaman Selatan.
- Visi Arab Saudi: Menginginkan Yaman yang bersatu di bawah kepemimpinan pemerintah pusat guna menjaga stabilitas perbatasan selatannya.
- Visi Uni Emirat Arab: Memberikan dukungan kuat kepada STC yang menginginkan kemerdekaan Yaman Selatan, yang secara otomatis akan memberikan Abu Dhabi pengaruh besar atas pelabuhan-pelabuhan strategis di jalur perdagangan maritim.
Seorang sumber militer Saudi menegaskan bahwa operasi udara ini tidak akan berhenti hingga pasukan separatis meninggalkan posisi mereka di wilayah perbatasan. Situasi ini mengancam upaya perdamaian yang lebih luas di Yaman dan berisiko menciptakan konflik baru di dalam “konflik besar” yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.



