Eskalasi Timur Tengah: Israel Prediksi Serangan Militer AS ke Iran dalam Waktu Dekat
Internasional

Eskalasi Timur Tengah: Israel Prediksi Serangan Militer AS ke Iran dalam Waktu Dekat

TEL AVIV – Ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai titik kritis setelah otoritas Israel menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat (AS) akan segera melancarkan operasi militer terhadap Iran. Prediksi ini memicu kesiagaan tertinggi di tingkat regional, dengan indikasi bahwa serangan dapat terjadi dalam hitungan hari.

Laporan yang dirilis oleh otoritas penyiaran publik Israel, Hebrew Broadcasting Authority, pada Rabu (14/1/2026), mengungkapkan bahwa Washington kemungkinan besar hanya akan memberikan pemberitahuan singkat kepada Israel—beberapa jam sebelum operasi dimulai—untuk meminimalkan risiko kebocoran informasi.

BACA JUGA : Ketegangan Teheran-Washington: Iran Bantah Vonis Mati Demonstran di Tengah Ancaman Donald Trump

Strategi Operasi Gabungan: Militer dan Siber

Para pejabat keamanan di Tel Aviv meyakini bahwa Pentagon tidak hanya akan mengandalkan kekuatan kinetik konvensional. Operasi AS diprediksi akan menggunakan skema Hybrid Warfare, yang mengombinasikan:

  1. Serangan Siber Skala Besar: Menargetkan infrastruktur komando, kendali komunikasi, dan jaringan energi Iran untuk melumpuhkan respons pertahanan mereka.
  2. Aksi Militer Langsung: Serangan udara presisi yang ditujukan pada fasilitas strategis dan titik-titik kekuatan militer Iran.

Menanggapi potensi ini, lembaga keamanan Israel telah meningkatkan status kewaspadaan ke level maksimal guna mengantisipasi serangan balasan (reprisal) dari Iran maupun kelompok proksinya di kawasan.

Diplomasi Rahasia di Teluk

Di balik persiapan militer, manuver diplomatik tingkat tinggi juga tengah berlangsung. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, dilaporkan melakukan kunjungan mendadak ke Abu Dhabi untuk bertemu secara tertutup dengan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), Abdullah bin Zayed.

Pertemuan yang tidak diumumkan secara resmi kepada publik ini diduga kuat membahas koordinasi keamanan regional dan mitigasi dampak jika konflik terbuka benar-benar pecah. Kehadiran Israel di UEA menunjukkan upaya penggalangan kekuatan blok regional dalam menghadapi pengaruh Teheran.

Kesiagaan Sipil: Pembukaan Bunker di Kota-Kota Strategis

Meskipun Komando Front Dalam Negeri Israel (Home Front Command) belum mengeluarkan perintah evakuasi resmi, sejumlah pemerintah daerah telah mengambil langkah proaktif. Ketegangan ini terlihat dari kebijakan pemerintah kota di wilayah selatan dan tengah Israel:

  • Beersheba dan Gan Yavne: Telah mengumumkan pembukaan tempat perlindungan bom (shelter) umum bagi warga.
  • Dimona: Kota yang menampung fasilitas nuklir sensitif Israel ini menjadi yang pertama membuka fasilitas perlindungan sebagai langkah preventif.

Langkah mandiri para wali kota ini mencerminkan tingginya kekhawatiran akan potensi serangan rudal balistik dari Iran sebagai bentuk jawaban atas intervensi AS.


Konteks Geopolitik: Momentum Kerusuhan Domestik Iran

Keyakinan akan serangan AS ini muncul di tengah momentum ketidakstabilan internal di Iran. Sejak gelombang protes rakyat pecah pada akhir Desember 2025, retorika dari Washington dan Tel Aviv mengalami pergeseran signifikan.

Sejumlah pejabat tinggi di kedua negara mulai secara terbuka menyiratkan dukungan terhadap skenario perubahan rezim (regime change). Intervensi militer yang direncanakan ini dipandang oleh sejumlah analis sebagai upaya untuk memperlemah kendali pemerintah Teheran di tengah tekanan domestik yang sedang berlangsung.

Situasi ini menempatkan Timur Tengah pada ambang perang besar yang melibatkan kekuatan global, dengan dampak yang diprediksi akan memengaruhi stabilitas energi dan keamanan dunia secara luas.