Haruskah Negara Berkembang Bergantung pada Energi Fosil? Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/01/06/222600570/haruskah-negara-berkembang-bergantung-pada-energi-fosil-. Membership: https://kmp.im/plus6 Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Internasional

Haruskah Negara Berkembang Bergantung pada Energi Fosil?

1. Dilema Keadilan Historis vs. Anggaran Karbon

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, anggota Uni Eropa, dan China telah membangun fondasi kemakmuran mereka selama lebih dari satu abad dengan membakar bahan bakar fosil. Secara historis, mereka bertanggung jawab atas sebagian besar akumulasi emisi di atmosfer.

Argumentasi yang sering muncul dari para pemimpin di Afrika dan Asia adalah mengenai keadilan iklim. Menghentikan negara berkembang untuk menggunakan gas atau batu bara dianggap sebagai upaya menghalangi jalur kemakmuran yang sebelumnya dinikmati negara maju. Namun, tantangan fisika tidak mengenal kompromi moral. Ilmuwan memperingatkan bahwa anggaran karbon dunia hampir habis. Jika semua negara berkembang mengikuti jejak emisi yang sama, target pembatasan suhu global di bawah 1,5°C mustahil tercapai.

BACA JUGA : Tragedi Awal Tahun di Australia: Gelombang Ganas Merenggut Nyawa, Sejumlah Pantai di Sydney Ditutup

2. Risiko Ekonomi: Fenomena “Sunk Costs” dan Aset Terdampar

Salah satu risiko terbesar yang disoroti oleh pakar manajemen keberlanjutan, Philipp Trotter, adalah potensi aset terdampar (stranded assets). Proyek gas lepas pantai skala besar memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mulai beroperasi dan puluhan tahun untuk balik modal.

  • Pasar yang Menyusut: Saat proyek tersebut selesai, permintaan global terhadap fosil diprediksi sudah menurun karena komitmen net-zero pada 2050.
  • Kehilangan Daya Saing: Negara berkembang berisiko menginvestasikan modal besar pada teknologi yang akan menjadi usang, sehingga mereka terjebak dalam utang untuk infrastruktur yang tidak lagi kompetitif.
  • Biaya Peluang: Investasi besar pada gas di tempat seperti Mozambik dapat mengalihkan dana yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun infrastruktur energi terbarukan yang lebih resilien.

3. Realita Ekonomi Energi Terbarukan

Berdasarkan data dari International Renewable Energy Agency (IRENA), lanskap energi telah berubah secara drastis. Saat ini, mayoritas pembangkit listrik energi terbarukan yang baru dibangun memiliki biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan pembangkit fosil.

Meskipun biaya operasional rendah, tantangan utama bagi negara berkembang adalah biaya modal (cost of capital). Suku bunga pinjaman untuk proyek hijau di negara berkembang sering kali jauh lebih tinggi dibandingkan di negara maju karena persepsi risiko investasi yang dianggap besar. Hal inilah yang membuat proyek fosil terkadang tampak lebih menarik secara jangka pendek bagi pemerintah yang membutuhkan hasil cepat.

4. Peluang “Leapfrogging” (Melompat Maju)

Negara berkembang seperti Mozambik sebenarnya berada pada posisi unik. Karena belum memiliki banyak infrastruktur fosil yang mapan (tanpa beban sunk costs), mereka memiliki peluang untuk melakukan leapfrogging—melompat langsung ke teknologi energi masa depan tanpa harus melalui fase ketergantungan pada karbon.

AspekJalur Energi FosilJalur Energi Terbarukan
KetersediaanTerbatas dan fluktuatifMelimpah (surya, angin, air)
Dampak EkonomiRisiko aset terdamparKetahanan energi jangka panjang
Dampak LingkunganEmisi tinggi dan polusiRamah lingkungan dan berkelanjutan
InvestasiPadat modal dengan risiko pasarPadat modal dengan biaya operasional rendah

Kenya telah menjadi contoh nyata dengan memanfaatkan potensi geotermal dan angin secara masif, membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dipisahkan dari peningkatan emisi gas rumah kaca.


Kesimpulan

Ketergantungan pada energi fosil bagi negara berkembang mungkin menawarkan solusi jangka pendek untuk kemiskinan, namun membawa risiko ekonomi yang besar di masa depan. Kunci keberhasilan transisi ini terletak pada dukungan finansial internasional untuk menurunkan risiko investasi sehingga energi bersih menjadi pilihan yang lebih rasional secara ekonomi, bukan sekadar secara moral.