MOSKWA – Pemerintah Rusia secara resmi membantah tuduhan yang menyebut pihaknya sebagai ancaman bagi keamanan Greenland. Moskwa menyebut narasi tersebut sebagai “mitos” yang sengaja diciptakan untuk melegitimasi peningkatan kehadiran militer pakta pertahanan NATO di kawasan Arktik.
Pernyataan ini muncul sebagai reaksi keras atas keputusan negara-negara anggota NATO untuk mulai mengerahkan pasukan ke pulau otonom milik Denmark tersebut pada Kamis (15/1/2026).
BACA JUGA : Terobosan Fisika: Ilmuwan China Berhasil Buktikan Efek Migdal Setelah 87 Tahun
NATO dan Misi Pengintaian di Arkti
Pihak Jerman menyatakan bahwa pengiriman personel militer ke Greenland merupakan bagian dari misi pengintaian strategis. Langkah ini diambil sebagai respons kolektif terhadap apa yang mereka definisikan sebagai potensi ancaman dari Rusia dan China di kutub utara.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengecam keras dalih tersebut. Ia menilai Washington tengah memaksakan kepentingannya sendiri di atas kedaulatan wilayah Denmark.
“Mitos mengenai ancaman Rusia, yang diumbar secara gencar oleh Denmark serta anggota Uni Eropa dan NATO lainnya selama bertahun-tahun, adalah sebuah tindakan yang sangat munafik,” tegas Zakharova sebagaimana dikutip dari kantor berita AFP.
Ambisi Donald Trump dan Tekanan terhadap Denmark
Ketegangan ini semakin diperumit oleh posisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menguasai Greenland. Trump memandang pulau tersebut memiliki nilai geopolitik yang krusial bagi keamanan nasional AS, terutama sebagai benteng pertahanan di belahan bumi utara.
Pernyataan Trump tersebut memicu krisis diplomatik di internal NATO:
- Respons Denmark: Copenhagen menyatakan keberatan keras dan menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual. Upaya pengambilalihan paksa dinilai akan merusak solidaritas aliansi trans-Atlantik yang telah terbangun sejak Perang Dunia II.
- Kekhawatiran AS: Trump berargumen bahwa jika Amerika Serikat tidak memperkuat pengaruhnya di sana, maka Rusia atau China akan mengambil alih kekosongan kekuasaan tersebut.
Perebutan Pengaruh di Kutub Utara
Ketegangan di Greenland tidak lepas dari fenomena perubahan iklim. Mencairnya es laut di Arktik telah membuka jalur pelayaran baru dan memberikan akses terhadap cadangan sumber daya alam serta tambang yang melimpah. Hal inilah yang memicu perlombaan pengaruh antara blok Barat dan Rusia.
Kedutaan Besar Rusia di Belgia turut mengeluarkan pernyataan yang menekankan keprihatinan mendalam atas upaya militerisasi di kawasan tersebut. Mereka memandang bahwa masuknya pasukan asing ke Greenland hanya akan meningkatkan risiko eskalasi militer di wilayah yang sebelumnya relatif stabil.
Ringkasan Situasi Geopolitik Greenland
| Pihak | Posisi dan Kepentingan |
| Rusia | Menolak label ancaman dan mengkritik ekspansi militer NATO di Arktik. |
| Amerika Serikat | Memprioritaskan penguasaan Greenland demi keamanan nasional dan membendung China-Rusia. |
| Denmark | Mempertahankan kedaulatan wilayah dan stabilitas hubungan aliansi. |
| Jerman/NATO | Melakukan misi pengintaian untuk mengantisipasi pergerakan militer di utara. |


