https://konservasiborobudur.org/eskalasi-keamanan-arktik-militer-as-dan-denmark-perkuat-kehadiran-di-greenland/
Internasional

Krisis Energi di Kyiv: Jutaan Warga Terjebak Suhu Ekstrem Usai Serangan Masif Rusia

KYIV – Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali menghadapi krisis kemanusiaan yang hebat setelah serangan udara skala besar yang diluncurkan oleh pasukan Rusia pada Senin (19/1/2026) malam. Serangan yang menargetkan infrastruktur energi vital ini menyebabkan hampir separuh kota kehilangan akses listrik dan pemanas ruangan, tepat saat musim dingin mencapai puncaknya dengan suhu anjlok hingga minus 14 derajat Celcius.

BACA JUGA : Eskalasi Keamanan Arktik: Militer AS dan Denmark Perkuat Kehadiran di Greenland

Skala Serangan dan Dampak Kerusakan

Berdasarkan data dari Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan serangan hibrida yang melibatkan sekitar 339 unit pesawat nirawak (drone) tempur jarak jauh dan 34 rudal, termasuk jenis balistik dan jelajah. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi dampak fisik yang sangat signifikan akibat agresi tersebut.

“Hingga saat ini, tercatat 5.635 bangunan tempat tinggal tidak memiliki pemanas ruangan. Selain itu, sebagian besar wilayah kota juga mengalami krisis air bersih karena pompa distribusi kehilangan daya listrik,” ungkap Klitschko dalam pernyataan resminya.

Laporan sementara mencatat sedikitnya satu orang warga sipil berusia 50 tahun tewas di pinggiran Kyiv, sementara kerusakan properti dan fasilitas umum dilaporkan merata di tujuh wilayah berbeda di Ukraina.

Upaya Penyelamatan dan Penghematan Energi

Menanggapi lumpuhnya jaringan energi, otoritas setempat telah mengambil langkah-langkah darurat:

  • Sektor Pendidikan: Seluruh sekolah di Kyiv diperintahkan tutup setidaknya hingga Februari mendatang untuk menjamin keselamatan siswa.
  • Efisiensi Cahaya: Lampu penerangan jalan umum diredupkan secara signifikan untuk menghemat beban daya yang tersisa.
  • Fasilitas Kesehatan: Rumah sakit dilaporkan bergantung pada generator cadangan untuk menjaga operasional alat medis krusial.

Respons Diplomatik dan Militer

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, mengutuk keras serangan ini dan menyebutnya sebagai bagian dari strategi “perang genosida” yang sengaja menargetkan kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia di tengah cuaca ekstrem.

Di sisi lain, Presiden Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa sistem pertahanan udara Ukraina sebenarnya telah bekerja maksimal. Ia menyebutkan bahwa bantuan amunisi rudal pertahanan yang baru tiba satu hari sebelum serangan terjadi sangat membantu dalam meminimalisir dampak yang jauh lebih buruk. Namun, ia kembali menekankan kepada para sekutu Barat untuk mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara yang lebih canggih.

Konteks Perang Energi

Serangan pada 19 Januari ini merupakan eskalasi lanjutan setelah insiden serupa pada 9 Januari lalu. Banyak dari infrastruktur yang baru saja diperbaiki kini kembali hancur, menciptakan tekanan besar bagi teknisi energi Ukraina yang harus bekerja dalam kondisi cuaca beku untuk memulihkan layanan.

Kondisi ini menegaskan pola serangan Rusia yang kini lebih fokus pada pelemahan daya tahan masyarakat sipil melalui penghancuran sistem penopang hidup di tengah musim dingin yang mematikan.