WASHINGTON D.C. – Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, akhirnya memberikan respons tegas terhadap kontroversi video yang dibagikan oleh Presiden Donald Trump di platform Truth Social. Video tersebut memicu kecaman nasional karena menampilkan visualisasi Barack dan Michelle Obama yang disunting menyerupai kera dengan latar musik parodi.
Baca juga ; Ancaman Terorisme di Suriah: Presiden Ahmed al-Sharaa Lolos dari Lima Upaya Pembunuhan ISIS
Kritik Obama terhadap Degradasi Tata Krama Politik
Dalam wawancara mendalam bersama komentator politik Brian Tyler Cohen pada Sabtu (14/2/2026), Obama menyoroti hilangnya standar kepatutan dalam wacana publik saat ini. Ia menilai bahwa tindakan tersebut bukan sekadar serangan pribadi, melainkan bentuk pengalihan perhatian yang merusak wibawa institusi kepresidenan.
“Tampaknya tidak ada lagi rasa malu di antara pihak-pihak yang seharusnya memahami tata krama, rasa kepatutan, serta penghormatan terhadap jabatan,” ujar Obama. Meski demikian, ia meyakini bahwa mayoritas rakyat Amerika Serikat masih menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan kebaikan, serta akan menjadi penentu akhir dalam memberikan penilaian terhadap perilaku tersebut.
Kronologi dan Pembelaan Gedung Putih
Polemik bermula pekan lalu ketika akun resmi Donald Trump mengunggah konten yang dianggap rasis oleh banyak pihak. Awalnya, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, membela unggahan tersebut sebagai “meme internet” biasa dan menuding kritik publik sebagai kemarahan yang dibuat-buat.
Namun, tekanan yang terus meningkat memaksa penghapusan konten tersebut. Seorang pejabat internal Gedung Putih kemudian mengklaim bahwa insiden tersebut merupakan kesalahan teknis yang dilakukan oleh staf administratif. Kontras dengan penjelasan tersebut, Presiden Trump secara terbuka menyatakan tidak melakukan kesalahan apa pun dan menolak untuk memberikan sanksi disipliner kepada staf yang terlibat.
Perpecahan Internal di Partai Republik
Insiden ini juga memicu keretakan di internal Partai Republik. Beberapa tokoh kunci partai secara terbuka menyatakan keberatan mereka terhadap narasi yang keluar dari Gedung Putih:
- Senator Tim Scott (South Carolina): Sebagai satu-satunya Senator Republik berkulit hitam, ia mendesak penghapusan segera video tersebut dan melabelinya sebagai konten paling rasis yang pernah diproduksi oleh lingkungan kepresidenan.
- Senator Katie Britt (Alabama): Menegaskan bahwa konten tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai bangsa Amerika dan seharusnya tidak pernah dipublikasikan sejak awal.
Laporan internal menyebutkan bahwa kritik dari sesama anggota partai ini memicu kemarahan Presiden Trump, yang merasa tidak mendapatkan loyalitas penuh dari rekan-rekan partainya di Senat.
Dampak terhadap Citra Kepresidenan
Para analis politik menilai konfrontasi verbal antara Obama dan Trump ini semakin mempertegas polarisasi di Amerika Serikat. Penggunaan kiasan rasial dalam ruang digital oleh seorang presiden aktif dianggap sebagai preseden buruk bagi diplomasi domestik. Peristiwa ini juga menguji sejauh mana standar moral dan etika tetap berlaku dalam perpolitikan modern yang semakin didominasi oleh konten provokatif di media sosial.
Negara kini menanti apakah dinamika ini akan memengaruhi basis dukungan pemilih menjelang siklus politik berikutnya, mengingat penekanan Obama bahwa “jawaban akhir akan datang dari rakyat Amerika.”


