Ketegangan geopolitik global kembali meningkat seiring tibanya sejumlah kapal perang dari Rusia, China, dan Iran di perairan Afrika Selatan pada Jumat (9/1/2026). Kehadiran armada tempur ini bertujuan untuk mengikuti latihan militer gabungan berskala besar yang melibatkan negara-negara anggota blok ekonomi BRICS.
BACA JUGA : Mengenali Batas: Panduan Strategis Menahan Diri untuk Mencegah Adiksi dan Jeratan Hutang Akibat Slot
Partisipasi Armada dan Lokasi Latihan
Berdasarkan laporan jurnalis di lapangan, kapal korvet Rusia telah terpantau berlabuh di Teluk False, dekat pangkalan Angkatan Laut Simon’s Town. Kapal ini bergabung dengan sejumlah alutsista canggih lainnya yang telah tiba lebih awal, antara lain:
- China: Mengerahkan kapal perusak (destroyer) dan kapal pengisian bahan bakar.
- Iran: Mengirimkan kapal pangkalan depan (forward base ship).
- Uni Emirat Arab: Diproyeksikan akan mengirimkan unit kapal tambahan untuk memperkuat manuver.
Latihan bertajuk “Will for Peace 2026” ini dijadwalkan dibuka secara resmi pada Sabtu (10/1/2026) dan akan berlangsung selama satu pekan penuh.
Tujuan Operasional dan Peran BRICS
Angkatan Bersenjata Afrika Selatan menyatakan bahwa latihan gabungan ini merupakan platform bagi 11 negara anggota BRICS untuk saling bertukar praktik terbaik dalam taktik maritim. Fokus utama latihan ini meliputi:
- Kemampuan Operasional Bersama: Meningkatkan sinergi antar-angkatan laut lintas negara.
- Keamanan Jalur Pelayaran: Menjamin keselamatan rute dagang internasional dari berbagai ancaman.
- Stabilitas Maritim Regional: Memperkuat posisi BRICS sebagai penyeimbang kekuatan di kawasan perairan strategis.
Selain negara yang mengirimkan unit tempur, negara anggota BRICS lainnya seperti Indonesia, Brasil, dan Ethiopia turut berpartisipasi dengan mengirimkan pengamat militer. Negara anggota lain yang terlibat dalam koordinasi blok ini meliputi India, Mesir, dan Arab Saudi.
Konteks Geopolitik: Sentimen Anti-AS dan Krisis Tanker
Latihan “Will for Peace 2026” digelar di tengah atmosfer politik global yang sedang memanas. Ada dua faktor utama yang melatarbelakangi besarnya perhatian dunia terhadap manuver ini:
- Polarisasi BRICS vs AS: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya telah secara terbuka melabeli kelompok BRICS sebagai organisasi yang bersifat “anti-Amerika”. Penarikan AS dari berbagai organisasi internasional baru-baru ini semakin mempertegas persaingan pengaruh antara Washington dan blok BRICS.
- Insiden Penyitaan Kapal: Latihan ini dilakukan sesaat setelah terjadinya ketegangan di Samudera Atlantik, di mana AS menyita kapal tanker minyak Marinera berbendera Rusia. AS menuding kapal tersebut merupakan bagian dari “armada gelap” yang memasok minyak ke negara-negara yang terkena sanksi seperti Venezuela dan Iran.
Respons Regional dan Internasional
Wakil Menteri Pertahanan Afrika Selatan, Bantu Holomisa, menegaskan bahwa latihan ini adalah bagian dari hak kedaulatan negara anggota untuk menjalin kerja sama militer. Namun, para pengamat hubungan internasional menilai bahwa keterlibatan China sebagai aktor utama dalam latihan ini merupakan sinyalemen kuat bahwa dominasi maritim Barat sedang mendapatkan tantangan serius dari kekuatan ekonomi baru dunia.
Latihan ini juga dipandang sebagai bentuk solidaritas di antara negara-negara yang mendapatkan tekanan sanksi ekonomi dari Gedung Putih, khususnya Rusia, Iran, dan pendukung Venezuela.



