BRUSSELS – Badan intelijen dari dua negara anggota NATO melaporkan adanya indikasi pengembangan proyektil anti-satelit baru oleh Rusia yang secara spesifik dirancang untuk melumpuhkan jaringan Starlink milik SpaceX. Senjata yang dikategorikan sebagai sistem “efek zona” ini bertujuan untuk menetralisir keunggulan komunikasi militer Ukraina di medan perang dengan cara menciptakan awan serpihan (debris) yang masif di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO).
BACA JUGA : Reaktivasi PLTN Terbesar di Dunia: Ambisi Energi Jepang di Tengah Bayang-Bayang Trauma Fukushima
Laporan intelijen tersebut menyoroti kekhawatiran bahwa Rusia sedang mencari cara radikal untuk memutus ketergantungan militer Ukraina terhadap ribuan satelit konstelasi Starlink yang selama ini menjadi tulang punggung koordinasi serangan dan komunikasi taktis Kiev.
Mekanisme Senjata “Efek Zona” dan Risiko Debris
Berbeda dengan rudal anti-satelit konvensional (ASAT) yang menargetkan satu objek secara presisi, senjata “efek zona” ini diduga bekerja dengan cara melepaskan ratusan ribu pelet berketumpatan tinggi di sepanjang lintasan orbit target.
- Dampak Mekanis: Kecepatan orbital yang sangat tinggi menyebabkan pelet kecil sekalipun memiliki energi kinetik yang cukup untuk menghancurkan panel surya atau instrumen sensitif satelit.
- Reaksi Berantai: Analis memperingatkan potensi terjadinya Kessler Syndrome, sebuah skenario di mana tabrakan satu satelit memicu tabrakan beruntun yang menghasilkan awan serpihan tak terkendali.
Perdebatan Pakar: Rasionalitas vs Ketakutan Strategis
Meskipun laporan intelijen ini memicu alarm di lingkungan NATO, sejumlah pakar keamanan antariksa memandang skeptis kemungkinan penggunaan senjata tersebut secara nyata.
Victoria Samson dari Secure World Foundation berpendapat bahwa penggunaan senjata ini bersifat “bunuh diri” bagi kekuatan antariksa seperti Rusia. Awan serpihan yang tercipta tidak akan memilih target; ia akan mengancam satelit navigasi, komunikasi, dan pertahanan milik Rusia serta sekutunya, China, yang juga sangat bergantung pada orbit rendah Bumi.
Namun, Brigadir Jenderal Christopher Horner dari Divisi Antariksa Kanada memberikan perspektif berbeda. Mengingat tuduhan sebelumnya mengenai upaya Rusia mengembangkan senjata nuklir berbasis luar angkasa, pengembangan senjata kinetik massal seperti ini dianggap sebagai kemungkinan yang masuk akal secara teknis, meskipun destruktif secara lingkungan.
Starlink sebagai Target Militer yang Sah
Moskow secara terbuka telah menyatakan bahwa satelit komersial yang digunakan untuk mendukung operasi militer musuh dapat dikategorikan sebagai target militer yang sah. Bagi Rusia, Starlink bukan sekadar layanan internet, melainkan instrumen perang yang memungkinkan Ukraina melakukan:
- Navigasi Drone: Pengendalian UAV dan USV jarak jauh dengan latensi rendah.
- Penentuan Sasaran: Sinkronisasi data intelijen secara real-time dari garis depan ke unit artileri.
- Ketahanan Komunikasi: Memastikan struktur komando tetap berjalan meskipun infrastruktur darat dihancurkan.
Senjata Intimidasi dan Pencegahan
Clayton Swope dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai bahwa pengungkapan keberadaan senjata ini kemungkinan besar bertujuan sebagai alat intimidasi strategis. Dengan menunjukkan kemampuan untuk “menutup” akses ke orbit tertentu, Rusia berusaha menciptakan efek jera bagi perusahaan swasta dan negara Barat agar tidak terlalu dalam melibatkan aset antariksa komersial mereka dalam konflik bersenjata.
Dugaan pengembangan senjata “efek zona” ini mempertegas bahwa luar angkasa kini menjadi domain peperangan baru yang sangat rentan. Meskipun risikonya mencakup kehancuran infrastruktur global, kemajuan riset militer Rusia di sektor ini menunjukkan adanya pergeseran strategi dari penindakan titik (point-to-point) menjadi penindakan area seluas satu rezim orbit.



