NATO Perkuat Keamanan Arktik di Tengah Ancaman Eskalasi Militer Amerika Serikat terhadap Greenland
Internasional

NATO Perkuat Keamanan Arktik di Tengah Ancaman Eskalasi Militer Amerika Serikat terhadap Greenland

BRUSSEL – Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan bahwa aliansi pertahanan transatlantik tersebut kini tengah merumuskan strategi baru untuk memperkuat keamanan di kawasan Arktik. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ketegangan menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih kendali atas Greenland.

BACA JUGA : Ambisi Geopolitik Donald Trump di Arktik: Greenland dalam Pusaran Rivalitas Kekuatan Besar

Diplomasi NATO dan Risiko Keamanan Global

Dalam keterangannya pada Senin (12/1/2026), Mark Rutte menekankan bahwa seluruh anggota aliansi yang terdiri dari 32 negara memiliki kesepahaman mengenai pentingnya menjaga stabilitas di Arktik. Pembukaan jalur laut baru akibat perubahan iklim meningkatkan risiko aktivitas militer Rusia dan China yang jauh lebih agresif di wilayah utara.

“Kami sedang membahas langkah selanjutnya untuk memastikan adanya tindak lanjut praktis guna melindungi kepentingan bersama di Arktik,” ujar Rutte. Para diplomat NATO mengungkapkan adanya wacana untuk meluncurkan misi militer baru di kawasan tersebut, meskipun pembahasan masih berada pada tahap awal tanpa proposal konkret.


Krisis Internal Aliansi: Klaim Penyelamatan vs Ancaman Pembubaran

Ambisi Donald Trump terhadap Greenland telah menciptakan keretakan yang signifikan di dalam internal NATO. Terdapat dua pandangan yang bertolak belakang dalam menanggapi situasi ini:

  • Sikap Denmark dan Eropa: Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, memberikan peringatan keras bahwa setiap bentuk serangan bersenjata atau upaya paksa oleh Washington terhadap Greenland akan menandai berakhirnya eksistensi NATO. Para pemimpin Eropa berdiri solid di belakang Denmark untuk mempertahankan kedaulatan wilayah otonom tersebut.
  • Klaim Donald Trump: Sebaliknya, Trump menepis kekhawatiran tersebut dan mengeklaim bahwa dirinya adalah figur yang justru menyelamatkan NATO dengan memaksa negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan mereka. Melalui media sosial, ia menegaskan posisi AS sebagai pelindung tunggal yang mampu menghalau pengaruh kapal perusak dan kapal selam Rusia maupun China di sekitar Greenland.

Diplomasi Tingkat Tinggi di Tengah Ketegangan

Minggu ini dijadwalkan menjadi momen krusial bagi diplomasi internasional. Menteri Luar Negeri Denmark dan perwakilan dari Greenland akan mengadakan pembicaraan dengan diplomat tinggi Amerika Serikat, Marco Rubio. Pertemuan ini diharapkan dapat mendinginkan suasana, meskipun Trump tetap bersikeras bahwa Greenland “harus membuat kesepakatan” dengan AS demi alasan keamanan.

Pentingnya Arktik bagi Keamanan Nasional

Analisis geopolitik menunjukkan bahwa Greenland kini berada di pusat “Perang Dingin Baru”. Ketimpangan pertahanan yang disebut Trump sebagai “dua kereta luncur anjing” dibandingkan dengan armada kapal selam Rusia menjadi landasan Washington untuk menekan Denmark. Namun, bagi NATO, langkah AS yang terlalu agresif justru dapat menjadi bumerang yang menghancurkan struktur keamanan kolektif yang telah terjaga sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Fokus NATO saat ini adalah menjaga agar persaingan memperebutkan Greenland tidak berubah menjadi konflik terbuka antar-anggota aliansi, sembari tetap waspada terhadap penetrasi kekuatan China dan Rusia di jalur pelayaran kutub utara yang semakin terbuka.