Amerika Serikat melakukan tindakan militer yang dramatis dengan menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dalam sebuah operasi kilat pada Sabtu dini hari (3/1/2026). Operasi militer yang diberi sandi “Operation Absolute Resolve” ini hanya memakan waktu 2 jam 20 menit, menandai berakhirnya pengintaian intelijen yang telah dilakukan selama berbulan-bulan.
Instruksi penyerangan diberikan langsung oleh Presiden Donald Trump pada Jumat malam pukul 22.46 waktu setempat, yang menjadi titik dimulainya pengerahan pasukan elite gabungan melalui jalur udara, darat, dan laut menuju Caracas.
BACA JUGA : Ironi Venezuela: Kekayaan Minyak Terbesar di Dunia di Tengah Kemiskinan Ekstrem dan Agresi Militer
Perencanaan Strategis dan Replika Lokasi Rahasia
Keberhasilan operasi ini tidak terlepas dari persiapan teknis yang sangat mendetail. Berdasarkan informasi yang dihimpun, militer AS menempuh langkah-langkah persiapan yang luar biasa:
- Pembangunan Replika: Pasukan elite AS membangun replika identik dari rumah persembunyian Maduro di sebuah lokasi rahasia. Replika ini digunakan untuk simulasi rute masuk, metode penyergapan, hingga teknik menjebol pintu baja berlapis.
- Intelijen Tingkat Tinggi: Agen intelijen memantau aktivitas pribadi Maduro secara mikroskopis, termasuk jadwal harian hingga kebiasaan terkecil. Keberhasilan ini juga didukung oleh informasi dari “orang dalam” di lingkungan pemerintahan Venezuela.
- Kerahasiaan Mutlak: Untuk menghindari kebocoran informasi, Pemerintah AS bahkan tidak memberikan notifikasi kepada Kongres hingga misi dinyatakan selesai sepenuhnya.
Jalannya Operasi Militer di Caracas
Operasi dimulai pada pukul 02.00 waktu setempat dengan melibatkan kekuatan udara yang masif. Lebih dari 150 pesawat militer, termasuk jet tempur dan pesawat pengebom, dikerahkan untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela.
- Sabotase Infrastruktur: Presiden Trump mengeklaim adanya pemutusan aliran listrik secara total di Caracas guna menciptakan kebingungan dan melumpuhkan koordinasi lawan sebelum pasukan darat masuk.
- Serangan Delta Force: Tepat pukul 02.01, pasukan Delta Force menyerbu kediaman yang dijuluki “Benteng Baja”. Meskipun sempat terjadi baku tembak yang mengenai salah satu helikopter AS, unit tersebut tetap berhasil menjalankan misi tanpa adanya korban jiwa di pihak mereka.
- Penembusan Barikade: Pasukan elite menggunakan peralatan khusus untuk menembus pintu-pintu baja yang dirancang khusus untuk menahan serangan luar.
Evakuasi dan Dampak Politik
Setelah berhasil mengamankan Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, keduanya segera dievakuasi menggunakan helikopter menuju kapal induk USS Iwo Jima.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, baru memberikan keterangan kepada Kongres setelah target berada dalam pengamanan militer. Rubio menegaskan bahwa kerahasiaan ekstrem ini diperlukan karena keterlibatan otoritas politik yang terlalu luas di awal rencana dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan pasukan dan keberhasilan misi.
Status Terkini
Penangkapan ini memicu ketegangan geopolitik yang signifikan di kawasan Amerika Latin. Saat ini, Nicolas Maduro dilaporkan berada di bawah pengawasan ketat militer AS untuk proses hukum selanjutnya, sementara dunia internasional masih menunggu pernyataan resmi dari sisa pemerintahan di Caracas mengenai suksesi kepemimpinan pasca-insiden tersebut.



