Reaktivasi PLTN Terbesar di Dunia: Ambisi Energi Jepang di Tengah Bayang-Bayang Trauma Fukushima
Internasional

Reaktivasi PLTN Terbesar di Dunia: Ambisi Energi Jepang di Tengah Bayang-Bayang Trauma Fukushima

NIIGATA – Pemerintah Prefektur Niigata resmi memberikan lampu hijau bagi Tokyo Electric Power Company (TEPCO) untuk mengoperasikan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki-Kariwa. Keputusan yang diambil pada Senin (22/12/2025) ini menandai babak baru dalam kebijakan energi Jepang, sekaligus memicu perdebatan sengit mengenai standar keamanan di negara dengan risiko seismik tertinggi tersebut.

BACA JUGA : Ambisi Geopolitik Amerika Serikat di Greenland: Keamanan Nasional, Persaingan Arktik, dan Sumber Daya Strategis

PLTN Kashiwazaki-Kariwa, yang memegang predikat sebagai fasilitas nuklir terbesar di dunia, dijadwalkan akan mulai mengaktifkan satu dari tujuh reaktornya paling cepat pada 20 Januari 2026. Ini merupakan langkah perdana TEPCO dalam mengoperasikan kembali fasilitas nuklirnya sejak tragedi Fukushima Daiichi pada Maret 2011.


Transformasi Keselamatan dan Paradoks Geografis

Pasca-bencana 2011, Jepang sempat menonaktifkan seluruh 54 reaktor nuklirnya. Hingga kini, hanya 14 reaktor yang telah kembali beroperasi di seluruh negeri. TEPCO mengeklaim telah melakukan perombakan total pada sistem keamanan di Kashiwazaki-Kariwa guna menghindari pengulangan tragedi masa lalu.

Upaya Mitigasi TEPCO:

  • Pembangunan tanggul laut baru yang lebih tinggi dan kokoh.
  • Pemasangan pintu kedap air pada area krusial reaktor.
  • Implementasi sistem penyaringan udara yang lebih canggih.
  • Penambahan personel tim tanggap darurat berskala besar.

Namun, para aktivis lingkungan seperti Aileen Mioko Smith dari Green Action Japan mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tidak serta-merta menghilangkan risiko geografis. Ia merujuk pada gempa Chuetsu-oki tahun 2007 yang sempat merusak fasilitas ini, jauh sebelum tsunami melanda Fukushima.


Tantangan Teknis dan Dilema Sosial di Niigata

Pengoperasian kembali reaktor ini menghadapi tantangan berlapis, mulai dari keraguan teknis hingga masalah kepercayaan publik. Berdasarkan survei pemerintah prefektur, sekitar 60 persen warga merasa kondisi saat ini belum memadai untuk melakukan aktivasi ulang.

Kekhawatiran Utama Kritikus:

  1. Integritas Struktural: Munculnya laporan mengenai masalah pada batang kendali di Unit 6 yang hingga kini dianggap belum mendapatkan penjelasan transparan dari pihak operator.
  2. Rencana Evakuasi: Wilayah Niigata dikenal memiliki cuaca ekstrem. Badai salju yang kerap terjadi dikhawatirkan akan menghambat jalur evakuasi jika terjadi kecelakaan nuklir di saat yang bersamaan.
  3. Kondisi Tanah: Pakar nuklir dari Greenpeace, Shaun Burnie, menyatakan bahwa lokasi PLTN berada di atas patahan aktif yang sudah diketahui sejak 1980, namun informasinya dituding sengaja ditutupi oleh otoritas terkait.

Politik Energi dan Keberlanjutan Ekonomi

Di tingkat nasional, Perdana Menteri Sanae Takaichi secara konsisten mendorong ekspansi energi nuklir sebagai solusi strategis. Terdapat dua alasan utama yang mendasari kebijakan ini:

  • Kemandirian Energi: Jepang saat ini sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil (sekitar 70 persen) yang sangat fluktuatif dan mahal.
  • Target Emisi: Nuklir dipandang sebagai instrumen kunci untuk mencapai target penurunan emisi karbon pada tahun 2040.

Bagi TEPCO, operasional Kashiwazaki-Kariwa memiliki nilai ekonomi sebesar 100 miliar yen (sekitar Rp11 triliun) per tahun. Dana ini sangat krusial untuk membiayai proses pembersihan (dekomposisi) reruntuhan reaktor Fukushima yang diperkirakan memakan waktu puluhan tahun.

Kesimpulan

Meskipun majelis prefektur telah memberikan persetujuan, polarisasi di tengah masyarakat tetap tinggi. Di satu sisi, kehadiran PLTN merupakan penggerak ekonomi lokal yang menyediakan lapangan kerja masif. Di sisi lain, bayang-bayang radiasi yang dapat menyelimuti Jepang bagian tengah jika terjadi kesalahan prosedur tetap menjadi ketakutan kolektif yang nyata. Keputusan reaktivasi ini akan menjadi ujian berat bagi TEPCO untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar telah bertransformasi demi keselamatan publik.