Terjepit di Garis Konflik dan Sanksi: Krisis Eksistensial Generasi Z di Iran
Internasional

Terjepit di Garis Konflik dan Sanksi: Krisis Eksistensial Generasi Z di Iran

TEHERAN – Di balik dinamika geopolitik Timur Tengah yang memanas, terdapat realitas pahit yang harus ditanggung oleh generasi muda Iran. Inflasi yang tidak terkendali, angka pengangguran yang terus merangkak naik, serta keterbatasan akses terhadap lapangan kerja telah mengubah harapan masa depan menjadi perjuangan bertahan hidup yang melelahkan.

Bagi Generasi Z di negara tersebut, kehidupan kini berjalan di atas ketidakpastian antara bayang-bayang perang dan sanksi internasional yang kian mencekik.

BACA JUGA : Krisis Agraria Perancis: Ratusan Traktor Kepung Paris dan Duduki Kawasan Parlemen


Hilangnya Harapan di Kota yang “Mati”

Elnaz (bukan nama sebenarnya), seorang pemuda Iran, memberikan gambaran suram mengenai kondisi lingkungannya. Meskipun telah membekali diri dengan berbagai pelatihan keterampilan untuk menjadi mandiri secara finansial, ia mengaku peluang kerja terus menyusut dalam beberapa bulan terakhir.

“Kotaku dulu terasa hidup, sekarang terasa mati. Teman-temanku lebih memilih pergi ke luar negeri,” ujarnya. Ia menekankan adanya kesenjangan yang lebar antara mereka yang memiliki dukungan finansial keluarga dengan mereka yang harus berjuang sendirian. Bagi Elnaz dan banyak rekannya, rasa iri terhadap kebebasan dan stabilitas pemuda di negara lain menjadi perasaan yang tak terhindarkan.

Kontradiksi Data dan Realitas Ekonomi

Meski pemerintah Iran mengeklaim angka pengangguran berada di level 7,6 persen, data lapangan menunjukkan kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan:

  • Pengangguran Tersembunyi: Hampir satu dari lima pemuda Iran tercatat tidak memiliki pekerjaan.
  • Kemiskinan Pekerja: Memiliki pekerjaan tetap tidak lagi menjamin kesejahteraan. Analisis ekonomi menunjukkan bahwa sekitar 80 persen rumah tangga di Iran kini hidup di bawah garis kemiskinan global.
  • Erosi Daya Beli: Bita, seorang warga yang keluarganya memiliki dua sumber penghasilan, mengungkapkan bahwa kebutuhan pokok seperti daging, ayam, dan beras kini menjadi barang mewah. “Kami harus mengatur jadwal pembelian secara bergiliran setiap bulan karena tidak sanggup membeli semuanya sekaligus,” ungkapnya.

Dampak Eskalasi Militer dan Sanksi Nuklir

Kondisi ekonomi yang sudah rapuh semakin diperparah oleh eskalasi konflik fisik selama 12 hari dengan Israel pada Juni lalu. Ketegangan militer tersebut secara instan memicu lonjakan harga komoditas dan memperlemah nilai tukar mata uang lokal.

Situasi kian diperumit dengan kembalinya sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait program nuklir Teheran. Sanksi ini tidak hanya membatasi ruang gerak ekonomi negara di kancah internasional, tetapi juga memutus akses teknologi dan investasi yang sangat dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja bagi anak muda.

Ketakutan akan Masa Depan

Bagi mayoritas warga Iran, terutama generasi muda, ketakutan terbesar saat ini bukanlah sekadar konflik bersenjata, melainkan kehancuran total struktur ekonomi yang membuat mereka tidak lagi memiliki masa depan di tanah air sendiri. Di tengah tekanan global dan kebijakan domestik yang ketat, Generasi Z Iran kini berada dalam posisi terjepit: antara keinginan untuk membangun bangsa dan realitas yang memaksa mereka untuk mencari jalan keluar demi bertahan hidup.