Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mencapai titik baru setelah mantan komandan Garda Revolusi Iran, Mohsen Rezaee, mengeluarkan pernyataan provokatif terhadap Amerika Serikat. Di tengah blokade militer yang dilakukan AS di Selat Hormuz, Teheran justru menyatakan kesiapannya menghadapi skenario invasi darat dan mengancam akan menghancurkan armada laut Washington.
BACA JUGA : Strategi Presisi: Serangan Tersembunyi Lumpuhkan Pangkalan Bawah Tanah “Eagle 44” Iran
Ejekan terhadap Donald Trump dan Ancaman Penyanderaan
Dalam sebuah siaran televisi pemerintah pada Rabu (15/4/2026), Rezaee secara terbuka merespons kebijakan keras Presiden Donald Trump. Ia menilai bahwa jika AS memutuskan untuk menurunkan pasukan darat, hal tersebut justru akan menjadi keuntungan strategis bagi Iran.
Rezaee melontarkan ancaman ekonomi yang ekstrem dengan menyatakan bahwa Teheran berencana menjadikan tentara Amerika sebagai alat tawar-menawar.
“Iran akan mengambil ribuan sandera, dan untuk setiap sandera, kami akan menuntut satu miliar dolar,” tegasnya sebagaimana dikutip dari New York Post.
Tantangan di Selat Hormuz dan Kekuatan Rudal
Rezaee membantah klaim sepihak dari pihak Washington yang menyebut bahwa kekuatan maritim Iran telah dilumpuhkan. Ia justru mempertanyakan keberanian militer AS untuk melintasi Selat Hormuz secara penuh di bawah pengawasan ketat pasukan Iran.
Sebagai bagian dari strategi pertahanan, Iran mengeklaim telah menargetkan sejumlah aset strategis AS di kawasan tersebut:
- Jangkauan Rudal: Seluruh kapal perang AS yang beroperasi di sekitar selat disebut sudah berada dalam kunci radar rudal Iran.
- Target Utama: Peluncur rudal Iran dilaporkan telah diarahkan secara spesifik ke kapal induk USS Abraham Lincoln serta armada pendukungnya.
- Ancaman Penenggelaman: Rezaee bersumpah bahwa rudal pertama Iran mampu menenggelamkan kapal-kapal tersebut jika AS mencoba memaksakan kontrol penuh atas jalur pelayaran global tersebut.
Diplomasi Syarat dari Teheran
Pihak Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur dari Selat Hormuz sebelum hak-hak kedaulatan mereka dijamin sepenuhnya. Mohsen Rezaee menekankan bahwa dalam konflik ini, Iranlah yang akan menetapkan syarat-syarat perdamaian, bukan Washington.
Pernyataan ini mencerminkan sikap defensif yang agresif dari Teheran sebagai respons atas tekanan ekonomi dan militer yang terus meningkat di bawah pemerintahan Trump. Selat Hormuz kini berada dalam kondisi paling kritis, mengingat jalur ini adalah urat nadi distribusi energi dunia yang sangat sensitif terhadap gangguan militer sekecil apa pun.


